<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mamaqfa2's Weblog</title>
	<atom:link href="http://mamaqfa2.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mamaqfa2.wordpress.com</link>
	<description>mencoba memuat info dari berbagai situs yang berguna untuk pribadi dan mungkin juga untuk orang lain</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 04:03:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mamaqfa2.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mamaqfa2's Weblog</title>
		<link>http://mamaqfa2.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mamaqfa2.wordpress.com/osd.xml" title="Mamaqfa2&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mamaqfa2.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mati Su&#8217;ul Khotimah oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di situs http://www.muslim.or.id.</title>
		<link>http://mamaqfa2.wordpress.com/2012/01/19/mati-suul-khotimah-oleh-ustadz-muhammad-abduh-tuasikal-di-situs-httpwww-muslim-or-id/</link>
		<comments>http://mamaqfa2.wordpress.com/2012/01/19/mati-suul-khotimah-oleh-ustadz-muhammad-abduh-tuasikal-di-situs-httpwww-muslim-or-id/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 04:02:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mamaqfa2</dc:creator>
				<category><![CDATA[tazkiyatun nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mamaqfa2.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang pasti menginginkan berada pada akhir kehidupan yang baik (husnul khotimah), bukan pada yang buruk (su’ul khotimah). Namun sudah sering kita saksikan ada beberapa orang yang mati dengan sangat tragis, sangat mengerikan yang mungkin kita belum pernah melihat sebelumnya. Su’ul khotimah inilah yang patut kita waspadai dan berusaha untuk tidak berada di ujung kehidupan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=48&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap orang pasti menginginkan berada pada akhir kehidupan yang baik (husnul khotimah), bukan pada yang buruk (su’ul khotimah). Namun sudah sering kita saksikan ada beberapa orang yang mati dengan sangat tragis, sangat mengerikan yang mungkin kita belum pernah melihat sebelumnya. Su’ul khotimah inilah yang patut kita waspadai dan berusaha untuk tidak berada di ujung kehidupan semacam itu.</p>
<p>Saudaraku, perlu kiranya engkau tahu bahwa su’ul khotimah (mati dalam keadaan buruk) memiliki sebab yang seharusnya setiap orang menjauhinya. Sebab utama adalah karena berpaling dari agama Allah. Hal ini dapat berupa berpaling dari istiqomah, lemahnya iman, rusaknya i’tiqod (keyakinan), dan terus menerus dalam maksiat.</p>
<p><strong>Beberapa Kisah Akhir Hidup yang Begitu Jelek</strong></p>
<p>Ada suatu kisah yang menunjukkan seseorang yang terlalu sibuk dengan dunia sehingga lupa akan akhirat. Lihatlah bagaimanakah akhir hidupnya.</p>
<p>Ia seorang pedagang kain yang biasa menjual kain. Tatkala sakratul maut ia bukan menyebut kalimat yang mulia “laa ilaha illallah”, namun yang ia sebut adalah, “Ini kain baru, ini kain baru. Ini pas untukmu. Kain ini amat murah.” Akhirnya ia pun mati setelah mengucapkan kalimat semacam itu. Padahal kalimat terbaik yang diucapkan saat sakratul maut adalah kalimat laa ilaha illallah.</p>
<p>مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ</p>
<p>“<em>Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga</em>.” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621)</p>
<p>Ada juga orang yang kesehariannya sibuk bermain catur. Ketika sakratul maut, ia diperintahkan untuk menyebut kalimat “laa ilaha illallah”. Namun apa yang ia katakan kala maut menjemput? Ia malah mengucapkan, “Skak!” Lalu ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mati bukan menyebut kalimat tahlil, namun menyebut kata “skak”. <em>Wallahul musta’an</em>.</p>
<p>Ada pula orang yang kesehariannya biasa menegak arak (khomr). Ketika maut menjemput, ia ingin ditalqinkan (dituntun baca kalimat tahlil, laa ilaha illallah). Namun apa yang ia ucapkan? Ia malah berkata saat sakratul maut, “Mari tuangkan arak untukku, minumlah!” Lantas ia pun mati dalam keadaan seperti itu. <em>Laa haula quwwata illa billah ‘aliyyil ‘azhim</em>.<a href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/mati-su%e2%80%99ul-khotimah.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>Pengaruh Teman Bergaul yang Buruk Semasa Hidup</strong></p>
<p>Ulama tabi’in, Mujahid <em>rahimahullah </em>berkata, “Barangsiapa mati, maka akan datang di hadapan dirinya orang yang satu majelis (setipe) dengannya. Jika ia biasa duduk di majelis orang yang selalu menghabiskan waktu dalam kesia-siaan, maka itulah yang akan menjadi teman dia tatkala sakratul maut. Sebaliknya jika di kehidupannya ia selalu duduk bersama ahli dzikir (yang senantiasa mengingat Allah), maka itulah yang menjadi teman yang akan menemaninya saat sakratul maut.”<a href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/mati-su%e2%80%99ul-khotimah.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Bukti dari perkataan Mujahid di atas terdapat pada kisah Abu Tholib berikut ini.</p>
<p>لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِى أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لأَبِى طَالِبٍ « يَا عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ » . فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ ، حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ</p>
<p>“<em>Ketika menjelang wafatnya Abu Tholib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya dan ternyata sudah ada Abu Jahal bin Hisyam dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah bin Al Mughirah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, kepada Abu Tholib, “Wahai pamanku katakanlah laa ilaaha illallah, suatu kalimat yang dengannya aku akan menjadi saksi atasmu di sisi Allah”. Maka berkata, Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah, “Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan meninggalkan agama ‘Abdul Muthalib?”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menawarkan kalimat syahadat kepada Abu Tholib dan bersamaan itu pula kedua orang itu mengulang pertanyaannya yang berujung Abu Tholib pada akhir ucapannya tetap mengikuti agama ‘Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illallah</em>.”(HR. Bukhari no. 1360 dan Muslim no. 24)</p>
<p><strong>Akibat Maksiat dan Godaan Syaithon</strong></p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em>berkata, “Sesungguhnya <em>dosa, maksiat dan syahwat</em> adalah sebab yang dapat menggelincirkan manusia saat kematiaanya, ditambah lagi dengan godaan syaithon. Jika maksiat dan godaan syaithon terkumpul, ditambah lagi dengan lemahnya iman, maka sungguh amat mudah berada dalam su’ul khotimah (akhir hidup yang jelek).”<a href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/mati-su%e2%80%99ul-khotimah.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong>Agar Selamat dari Su’ul Khotimah</strong></p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em>kembali melanjutkan penjelasannya:</p>
<p>“Su’ul khotimah (akhir hidup yang jelek)—semoga Allah melindungi kita darinya—tidaklah terjadi pada orang yang secara lahir dan batin itu baik dalam bermuamalah dengan Allah. Begitu pula tidak akan terjadi pada orang yang benar perkataan dan perbuatannya. Keadaan semacam ini tidak pernah didengar bahwa orangnya mati dalam keadaan su’ul khotimah sebagaimana kata ‘Abdul Haq Al Isybili. Su’ul khotimah akan mudah terjadi pada orang yang rusak batinnya dilihat dari i’tiqod (keyakinannya) dan rusak lahiriahnya yaitu pada amalnnya. Su’ul khotimah lebih mudah terjadi pada orang yang terus menerus dalam dosa besar dan lebih menyukai maksiat. Akhirnya ia terus menerus dalam keadaan berlumuran dosa semacam tadi sampai maut menjemput sebelum ia bertaubat.”<a href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/mati-su%e2%80%99ul-khotimah.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Jika telah mengetahui hal ini dan tidak ingin kehidupan kita berakhir buruk sebagaimana kisah-kisah yang telah kami utarakan di atas, maka sudah sepantasnya kita menyegerakan taubat terhadap semua dosa yang kita perbuat, baik itu dosa kesyirikan, bid’ah, dosa besar dan maksiat. Begitu pula segeralah kita kembali taat pada Allah dengan mengawali segalanya dengan ilmu. Kita tidak tahu kapan nyawa kita diambil. Entah besok, entah lusa, entah minggu depan, boleh jadi lebih cepat dari yang kita kira. Yang tua dan muda sama saja, tidak ada yang tahu bahwa ia akan berumur panjang. Selagi masih diberi kesempatan, selagi masih diberi nafas, teruslah bertaubat dan kembali taat pada-Nya. Lakukan kewajiban, sempurnakan dengan amalan sunnah. Jauhi maksiat dan berbagai hal yang makruh. Jangan sia-siakan waktu, teruslah isi dengan kebaikan.</p>
<p>Moga Allah mematikan kita dalam keadaan husnul khotimah dan menjauhkan kita dari akhir hidup yang jelek, su’ul khotimah. Amin Yaa Mujibas Saailin.</p>
<p>Written tonight, on 3 Dzulqo’dah 1431 H, in KSU, Riyadh, Kingdom of Saudi Arabia</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com/">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" />
<p><a href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/mati-su%e2%80%99ul-khotimah.html#_ftnref1">[1]</a> Kisah-kisah ini kami peroleh dari risalah mungil yang berjudul <em>‘Alamaatu Husnul Khotimah wa Su’uha</em>, terbitan Darul Qosim.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/mati-su%e2%80%99ul-khotimah.html#_ftnref2">[2]</a> Tadzkiroh, Al Qurthubi, Asy Syamilah, 1/38</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/mati-su%e2%80%99ul-khotimah.html#_ftnref3">[3]</a> Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/184 (sesuai standar).</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/mati-su%e2%80%99ul-khotimah.html#_ftnref4">[4]</a> Idem.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mamaqfa2.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mamaqfa2.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mamaqfa2.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mamaqfa2.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mamaqfa2.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mamaqfa2.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mamaqfa2.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mamaqfa2.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mamaqfa2.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mamaqfa2.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mamaqfa2.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mamaqfa2.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mamaqfa2.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mamaqfa2.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=48&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mamaqfa2.wordpress.com/2012/01/19/mati-suul-khotimah-oleh-ustadz-muhammad-abduh-tuasikal-di-situs-httpwww-muslim-or-id/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mamaqfa2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tak Jadi Mencuri Terong, Lalu Allah Karuniakan Untuknya Seorang Isteri</title>
		<link>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/12/28/tak-jadi-mencuri-terong-lalu-allah-karuniakan-untuknya-seorang-isteri/</link>
		<comments>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/12/28/tak-jadi-mencuri-terong-lalu-allah-karuniakan-untuknya-seorang-isteri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 07:27:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mamaqfa2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengetahuan Islam berdasarkan manhaj ahlus sunnah wal jamaah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mamaqfa2.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Di Damaskus, ada sebuah masjid besar, namanya Masjid Jami’ At-Taubah. Masjid itu penuh keberkahan. Di dalamnya ada ketenangan dan keindahan. Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang syaikh pendidik yang alim dan mengamalkan ilmunya, namanya Syaikh Salim Al-Masuthi. Dia sangat fakir sehingga menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=45&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di Damaskus, ada sebuah masjid besar, namanya Masjid Jami’ At-Taubah. Masjid itu penuh keberkahan. Di dalamnya ada ketenangan dan keindahan. Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang syaikh pendidik yang alim dan mengamalkan ilmunya, namanya Syaikh Salim Al-Masuthi. Dia sangat fakir sehingga menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan jiwanya dan dalam berkhidmat untuk kepentingan orang lain.</p>
<p>Saat itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid. Sudah dua hari berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Dia tidak punya makanan ataupun uang untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga dia merasa bahwa dia akan mati, lalu dia berfikir tentang apa yang akan dilakukan. Menurutnya, saat ini dia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan bangkai atau mencuri sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya. Itulah pendapatnya dalam kondisi semacam ini.</p>
<p>Masjid tempat dia tinggal itu, atapnya bersambung dengan atap beberapa rumah yang ada di sampingnya. Hal ini memungkinkan seseorang pindah dari rumah pertama sampai terakhir dengan berjalan di atas atap rumah-rumah tersebut. Maka, dia pun naik ke atas atap masjid dan dari situ dia pindah ke rumah sebelah. Di situ dia melihat orang-orang wanita, maka dia memalingkan pandangannya dan menjauh dari rumah itu. Lalu dia lihat rumah yang di sebelahnya lagi. Keadaannya sedang sepi dan dia mencium ada bau masakan berasal dari rumah itu. Rasa laparnya bangkit, seolah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya.</p>
<p>Rumah-rumah di masa itu banyak dibangun dengan satu lantai, maka dia melompat dari atap ke dalam serambi. Dalam sekejap dia sudah ada di dalam rumah dan dengan cepat dia masuk ke dapur lalu mengangkat tutup panci yang ada di situ. Di lihatnya sebuah terong besar dan telah dimasak. Lalu dia mengambilnya, karena rasa laparnya dia tidak lagi merasakan panasnya,<br />
digigitlah terong yang ada di tangannya dan saat dia mengunyah dan hendak menelannya, dia ingat dan timbul lagi kesadaran beragamanya. Langsung dia berakta, A’udzu billah! Aku adalah penuntut ilmu dan tinggal di masjid, pantaskah aku masuk ke rumah orang dan mencuri barang yang ada di dalamnya?’ Dia merasa bahwa ini adalah kesalahan besar, lalu dia menyesal dan beristighfar kepada Allah, kemudian mengembalikan lagi terong yang ada di tangannya. Akhirnya dia pulang kembali ke tempatnya semula. Lalu dia masuk ke dalam masjid dan duduk mendengarkan syaikh yang saat itu sedang mengajar. Karena terlalu lapar dia hampir tidak bisa memahami apa yang dia dengar.</p>
<p>Ketika majlis itu selesai dan orang-orang sudah pulang, datanglah seorang perempuan yang menutup tubuhnya dengan hijab -saat itu memang tak ada perempuan kecuali dia memakai hijab-, kemudian perempuan itu berbicara dengan syaikh. Sang pemuda tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya. Akan tetapi, secara tiba-tiba syaikh itu melihat ke sekelilingnya. Tak tampak olehnya kecuali pemuda itu, dipanggillah ia dan syaikh itu bertanya, ‘Apakah kamu sudah menikah?’, dijawab, ‘Belum,’. Syaikh itu bertanya lagi, ‘Apakah kau ingin menikah?’. Pemuda itu diam. Syaikh mengulangi lagi pertanyaannya. Akhirnya pemuda itu angkat bicara, ‘Ya Syaikh, demi Allah! Aku tidak punya uang untuk membeli roti, bagaimana aku akan menikah?’. Syaikh itu menjawab, ‘Wanita ini datang membawa kabar, bahwa suaminya telah meninggal dan dia adalah orang asing di kota ini. Di sini, bahkan di dunia ini dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang paman yang sudah tua dan miskin’, kata syaikh itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk di pojokan. Syaikh itu melanjutkan pembicaraannya, ‘Dan wanita ini telah mewarisi rumah suaminya dan hasil penghidupannya. Sekarang, dia ingin seorang laki-laki yang mau menikahinya, agar dia tidak sendirian dan mungkin diganggu orang. Maukah kau menikah dengannya?’. Pemuda itu menjawab, ‘Ya’.</p>
<p>Kemudian syaikh bertanya kepada wanita itu, ‘Apakah engkau mau menerimanya sebagai suamimu?’, ia menjawab, ‘Ya’. Maka syaikh itu memanggil pamannya dan mendatangkan dua saksi kemudian melangsungkan akad nikah dan membayarkan mahar untuk muridnya itu.</p>
<p>Kemudian syaikh itu berkata, ‘Peganglah tangan isterimu!’ Dipeganglah tangan isterinya dan sang isteri membawanya ke rumahnya. Setelah keduanya masuk ke dalam rumah, sang isteri membuka kain yang menutupi wajahnya. Tampaklah oleh pemuda itu, bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik. Rupanya pemuda itu sadar bahwa ternyata rumah itu adalah rumah yang tadi telah ia masuki.</p>
<p>Sang isteri bertanya, ‘Kau ingin makan?’, ‘Ya’ jawabnya. Lalu dia membuka tutup panci di dapurnya. Saat melihat buah terong di dalamnya dia berkata: ‘Heran, siapa yang masuk ke rumah dan menggigit terong ini?!’. Maka pemuda itu menangis dan menceritakan kisahnya. Isterinya berkomentar, ‘Ini adalah buah dari sifat amanah, kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan terong yang haram itu, lalu Allah berikan kepadamu rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam keadaan halal. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka akan Allah ganti dengan yang lebih baik dari itu’ (Diceritakan oleh Syaikh Ali At-Thanthawi. ).</p>
<p>Sumber: Kisah-Kisah Nyata Tentang Nabi, Rasul, Sahabat, Tabi`in, Orang-orang Dulu dan Sekarang, karya Ibrahim bin Abdullah Al-Hazimi, penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc. (alsofwah.or. id)<br />
Artikel www.KisahMuslim. com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mamaqfa2.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mamaqfa2.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mamaqfa2.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mamaqfa2.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mamaqfa2.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mamaqfa2.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mamaqfa2.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mamaqfa2.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mamaqfa2.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mamaqfa2.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mamaqfa2.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mamaqfa2.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mamaqfa2.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mamaqfa2.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=45&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/12/28/tak-jadi-mencuri-terong-lalu-allah-karuniakan-untuknya-seorang-isteri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mamaqfa2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JANGAN SALAH MENDIDIK BAGIAN 3</title>
		<link>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/12/22/jangan-salah-mendidik-bagian-3/</link>
		<comments>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/12/22/jangan-salah-mendidik-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 01:49:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mamaqfa2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mamaqfa2.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[JANGAN SALAH MENDIDIK (bag.3) penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc 11. Khawatir yang Berlebihan Perasaan takut terhadap keselamatan dan rasa khawatir terhadap masa depan anak merupakan sifat yang wajar ada pada setiap orangtua. Namun, perasaan itu akan berubah menjadi bahaya bila berlebihan dan berubah menjadi was-was akan keselamatan anaknya, bersikap bakhil karena takut beban [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=40&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JANGAN SALAH MENDIDIK (bag.3)<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc</p>
<p><strong>11. Khawatir yang Berlebihan</strong><br />
Perasaan takut terhadap keselamatan dan rasa khawatir terhadap masa depan anak merupakan sifat yang wajar ada pada setiap orangtua. Namun, perasaan itu akan berubah menjadi bahaya bila berlebihan dan berubah menjadi was-was akan keselamatan anaknya, bersikap bakhil karena takut beban biaya hidup anaknya tidak terpenuhi, dan mencintai anak secara berlebihan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img title="Selebihnya..." src="http://parentingmuslim.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Ketakutan seperti itu hanya akan membuat hidup terbebani, tidak percaya dengan takdir, dan mengurangi ketawakalannya kepada Allah. Yang ada nanti hanya perasaan tidak tenang dan khawatir terhadap nasib anaknya. Inilah yang kadang membuat orangtua tidak tega saat melepas anaknya menempuh pendidikan boarding school (pondok) di pesantren. Padahal, setiap orangtua harus menyadari bahwa suatu saat nanti anak akan berpisah dengannya, baik untuk mencari ilmu atau mencari pekerjaan untuk menghidupi keluarganya setelah menikah kelak.</p>
<p><strong>12. Kurang Sabar dalam Menerima Hasil</strong><br />
Bisa jadi orangtua sudah punya target-target tertentu atas pendidikan anaknya, atau boleh jadi orangtua telah mendidik anaknya untuk mengganti jabatannya atau memegang perusahaannya setelah  dia meninggal. Namun, ternyata sang anak mengecewakannya. Bukan karena ia nakal dan membangkang, melainkan karena bakat sang anak tidak sejalan dengan keinginan dan harapan orangtuanya. Akhirnya, kita dengar orang tua mencerca anaknya, “Tinggal belajar saja kok tidak bisa. Makanya, belajar yang betul!”</p>
<p>Padahal, kita semua sadar bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan kecerdasan dan kemampuan yang berbeda kepada setiap hamba-Nya. Seharusnya orang tua bersikap bijak.  Kewajiban orangtua hanyalah berusaha semaksimal mungkin mengarahkan dan membina anak-anaknya, sedangkan hasilnya, Allah Maha Adil dan Maha Tahu apa yang tetbaik bagi hamba-Nya. Jadi, kenapa orangtua harus kecewa dengan hasil yang tidak sesuai keinginannya?  Bukankah lebih baik mengutamakan kesabaran dan keistikomahan dalam mendidik dan mengarahkan anak, daripada terpaku pada hasil akhirnya?</p>
<p><strong>13. Curiga Berlebihan</strong><br />
Orang tua harus bersikap terbuka dan memberi kepercayaan kepada anak. Sikap ini akan memperlancar komunikasi dan interaksi dengan anak maupun anggota keluarga yang lain.  Keterbukaan dan kepercayaan juga akan membuat anak mencintai orangtuanya secara tulus dan memandang penuh hormat dan kasih pada keduanya. Sebaliknya, bila orang tua mudah menuduh<br />
tanpa bukti, mencurigai setiap gerak-gerik anak tanpa alasan dan menganggap anak berkhianat kepada orangtuanya, perasaan anak akan tercabik-cabik, kekecewaan tumbuh, dan kemarahan anak kepada orangtua akan tersulut. Apalagi bila anak merasa apa yang dituduhkan kepadanya tidak benar.</p>
<p>Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dalam menilai anak-anaknya. Jangan mudah curiga dan menuduh anak dengan sesuatu tanpa alasan dan bukti hanya karena kurang cinta atau cemburu. Orang tua juga tidak boleh meremehkan kemampuan dan kelebihan anak dengan menganggapnya masih terlalu kecil.</p>
<p>Di pihak lain, sang anak pun tak boleh mudah memvonis orangtuanya tidak sayang dan membencinya. Seharusnya seorang anak bersabar menghadapi sikap orang tua yang kurang berkenan dan sebaiknya mencari informasi yang sebenarnya kenapa orangtuanya bersikap demikian, dan menghilangkan dendam kepada orangtua karena sikapnya tersebut. Sebab, dendam yang dibiarkan bisa memutus hubungan silaturahim. Maka, pupuklah sikap saling percaya,  tumbuhkan empati, dan sikap terbuka dalam menghadapi setiap masalah.</p>
<p><strong>14. Menjauhkan Anak dari Orang Shalih</strong><br />
Kalau tidak bergaul dengan ulama atau orang shalih, pasti kita akan bergaul dengan orang-orang bodoh dan ahli maksiat. Kedekatan dengan para ulama dan orang shalih akan memotivasi anak untuk cinta pada kebaikan, amal shalih, dan lingkungan yang bagus. Siapa yang berkumpul dengan orang-orang baik atau hidup di lingkungan yang baik, akan tertular kebaikannya. Dan siapa yang berkumpul dengan orang-orang buruk atau hidup di lingkungan yang buruk, akan pula terkena getah keburukannya.</p>
<p>Wahai anak shalih yang mendambakan surga, jangan biarkan dirimu bergaul dengan orang buruk berhati serigala, orang munafik, orang fasik dan ahli bid’ah perusak agama. Ingat, orang yang baik akan dikumpulkan bersama orang baik dan orang yang buruk akan berkumpul dengan orang yang buruk. Dan pada Hari Kiamat kelak, seseorang dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.</p>
<p><em><strong>dari buku:</strong></em><br />
judul: “Untukmu Anak Shalih”<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc<br />
penerbit: rumah penerbit al-manar<br />
halaman: 42-45</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mamaqfa2.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mamaqfa2.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mamaqfa2.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mamaqfa2.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mamaqfa2.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mamaqfa2.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mamaqfa2.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mamaqfa2.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mamaqfa2.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mamaqfa2.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mamaqfa2.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mamaqfa2.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mamaqfa2.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mamaqfa2.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=40&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/12/22/jangan-salah-mendidik-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mamaqfa2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parentingmuslim.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Selebihnya...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JANGAN SALAH MENDIDIK (BAGIAN 2)</title>
		<link>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/12/22/jangan-salah-mendidik-bagian-2/</link>
		<comments>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/12/22/jangan-salah-mendidik-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 01:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mamaqfa2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mamaqfa2.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[5. Motivasi yang Kurang Tepat Kesalahan orangtua atau guru dalam memberi motivasi kepada anak didiknya bisa memberi dampak yang kurang baik. Misalnya, mendoromg anak berprestasi dengan hadiah yang menggiurkan, atau memotivasi anak berprestasi agar tidak tersaingi oleh teman-temannya, atau memotivasi anak agar bangga dengan prestasi yang telah dicapainya. Motivasi yang demikian itu akan merusak watak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=37&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>5. Motivasi yang Kurang Tepat</strong><br />
Kesalahan orangtua atau guru dalam memberi motivasi kepada anak didiknya bisa memberi dampak yang kurang baik. Misalnya, mendoromg anak berprestasi dengan hadiah yang menggiurkan, atau memotivasi anak berprestasi agar tidak tersaingi oleh teman-temannya, atau memotivasi anak agar bangga dengan prestasi yang telah dicapainya. Motivasi yang demikian itu akan merusak watak dan pribadi anak, karena anak terdorong bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu bukan karena Allah, melainkan karena ingin berprestasi dan mendapat hadiah yang menggiurkan.<br />
Parahnya lagi, hanya untuk mengejar hadiah yang dijanjikan, si anak bisa saja menghalalkan segala cara, dengan mencontek atau berbuat curang lainnya, yang penting hadiah didapat.</p>
<p>Alhasil, bila dia tidak bisa berprestasi, maka dia akan menjadi orang yang frustasi dan malas belajar, sedangkan pada anak yang didorong agar tidak tersaingi oleh teman-temannya akan timbul sifat angkuh, sombong dan egois. Dan anak yang dimotivasi agar bangga dengan prestasi yang dicapainya, tumbuh menjadi anak yang tidak pandai bersyukur kepada Allah; ia hanya bersemangat menuntut ilmu, tapi kehilangan kendali bila gagal.</p>
<p><strong>6. Membatasi Kreativitas Anak</strong><br />
Ada sebagian orangtua yang membatasi, memaksa dan selalu menentukan kreativitas anak. Ini akan mengekang bakat anak, membuat anak kurang percaya diri, tidak pandai bergaul, dan cenderung memisahkan diri dari teman-temannya. Seharusnya orangtua mengarahkan, membimbing, mendorong dan memberi fasilitas agar anak mengembangkan kreativitasnya sepanjang kreativitas itu tidak melanggar syariat, tidak merugikan dan mengganggu orang lain, dan bermanfaat untuk diri maupun agamanya. Anak yang merasa didukung kreativitasnya akan tumbuh dengan kepala yang penuh ide cemerlang dan menjadi orang yang bertanggung jawab, sekaligus menjadi anak yang bangga dengan orang-tuanya.</p>
<p><strong>7.  Membatasi Pergaulan</strong><br />
Kadang, karena tidak ingin anak terpengaruh oleh perilaku buruk teman bergaulnya, orangtua bertindak sangat protektif terhadap anaknya. Bahkan, anak tak boleh “nimbrung” jika orang tuanya sedang menerima tamu. Atau, anak hanya diperbolehkan bergaul dengan teman-teman tertentu yang belum tentu shalih, tapi justru dilarang mendekati temannya yang shalih, paham As-Sunnah dan rajin beribadah.</p>
<p>Sikap orangtua seperti di atas membuat anak menjadi pemalu dan tidak pandai bergaul, atau akan membuat anak mudah merendahkan orang lain yang dianggap tidak selevel dengannya.</p>
<p>Orangtua bijaksana akan mengawasi pergaulan anak-anaknya, tanpa terlalu membatasi tapi juga tidak membiarkan anak bergaul bebas. Orangtua harus selalu mengingatkan dan memantau agar anak bergaul dengan orang-orang shalih, yang paham As-Sunnah, rajin beribadah dan berakhlak mulia serta teman-teman yang bisa memotivasinya menjadi orang yang bermanfaat untuk diri, agama, orang tua dan orang di sekitarnya.</p>
<p><strong>8. Tidak Disiplin dan Kurang Tertib</strong><br />
Ketidakdisiplinan dan kurang tertibnya orang tua dalam mendidik anak akan membuat anak juga tidak disiplin dan tertib dalam menjalani hidupnya. Orangtua dan para pendidik harus menanamkan hidup disiplin dan tertib sejak usia dini sehingga anak terbiasa hidup disiplin dan tertib dalam menunaikan tugas-tugas harian, terutama yang terkait dengan kewajiban agama dan ibadah kepada Allah, tugas rumah dan tugas sekolahan. Anak harus dilatih untuk membiasakan shalat fardhu tepat waktu dan berjemaah di masjid (bagi anak laki-laki), melatih diri untuk berpuasa, serta menaati perintah orangtua dalam kebaikan, bukan dalam kemaksiatan.</p>
<p>Setiap orangtua atau pendidik hendaknya membuatkan jadwal rutin harian, yang berkaitan dengan ibadah, tugas harian maupun tugas sekolah, dan orangtua harus senantiasa mengontrol dan mengawasinya jangan sampai ada yang terlewatkan.</p>
<p><strong>9. Hanya Pendidikan Formal</strong><br />
Sebagian orangtua sudah merasa cukup mendidik anak bila sudah memberi mereka pendidikan formal atau kursus bimbingan belajar. Padahal, kebanyakan lembaga tersebut mengajarkan ilmu keduniaan saja, tanpa memedulikan kebutuhan prinsipil seperti pendidikan akidah, pembinaan akhlak dan pendidikan yang berbasis pada kemandirian. Alhasil, lulus dari pendidikan formal, anak tidak bisa menghadapi realitas dan persaingan hidup. Sebab, kebutuhan ilmu sang anak tidak dapat dipenuhi hanya melalui madrasah saja.</p>
<p>Dengan kata lain, setiap anak harus membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan realitas hidup, perkembangan teknologi, bisnis, informasi, komunikasi, situasi terkini, dunia tumbuhan dan binatang. Dan untuk itu, orangtua haruslah aktif dan selektif dalam memilihkan bacaan, yaitu memilihkan bacaan yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Karenanya, pendidikan non formal, terutama pendidikan agama mutlak diperlukan, karena dengan pendidikan inilah si anak akan dapat menyaring, mana ilmu teknologi, bisnis, komunikasi, dan segala hal yang bermanfaat atau justru berpotensi merusak akidah maupun akhlak seseorang.</p>
<p><strong>10. Kurang Mengenalkan Tanggung Jawab</strong><br />
Orangtua harus menumbuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi pada anak-anaknya akan tugas dan kewajiban mereka, baik yang terkait dengan urusan agama maupun dunia. Masing-masing harus merasa bahwa tugas sekecil apa pun merupakan amanah yang harus diemban dan beban tanggung jawab yang harus dipikul sepenuh kemampuan. Anak harus dilatih untuk lebih dahulu menunaikan kewajiban dari pada menuntut haknya baik hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun kepada sesama manusia terutama kepada orangtua, sanak-kerabat dan teman-temannya.</p>
<p>Orangtua harus mengenalkan kepada anak-anaknya tanggung jawab kepada agama, diri, dan lingkungannya. Bahkan anak harus dikenalkan pada kewajiban zakat, infak dan sedekah, menyantuni anak yatim dan fakir-miskin agar tumbuh rasa tanggung jawab dan sensitivitasnya pada agama dan lingkungan, baik lingkungan rumah maupun sekolah.</p>
<p>11.Khawatir yang Berlebihan<br />
12.Kurang Sabar dalam Menerima Hasil<br />
13.Curiga Berlebihan<br />
14.Menjauhkan Anak dari Orang Shalih</p>
<p>keterangan poin 11-14, edisi depan, <em>insya allah…</em></p>
<p>dari buku:<br />
judul: “Untukmu Anak Shalih”<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc<br />
penerbit: rumah penerbit al-manar<br />
halaman: 38-42</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mamaqfa2.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mamaqfa2.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mamaqfa2.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mamaqfa2.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mamaqfa2.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mamaqfa2.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mamaqfa2.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mamaqfa2.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mamaqfa2.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mamaqfa2.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mamaqfa2.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mamaqfa2.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mamaqfa2.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mamaqfa2.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=37&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/12/22/jangan-salah-mendidik-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mamaqfa2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JANGAN  SALAH MENDIDIK</title>
		<link>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/12/22/jangan-salah-mendidik/</link>
		<comments>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/12/22/jangan-salah-mendidik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 01:44:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mamaqfa2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mamaqfa2.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka orangtua harus pandai-pandai memilih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=35&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc</p>
<p>Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka orangtua harus pandai-pandai memilih lembaga pendidikan yang sejalan dengan syariat Islam.</p>
<p>Banyak orang awam dan berkantong tebal salah dalam memilih lembaga pendidikan. Alih-alih mempertimbangkan kebersihan akidah dan keluhuran akhlak bagi anak-anaknya, mereka hanya berorientasi pada keberhasilan di dunia. Alhasil, mereka hanya memilih sekolah favorit yang ternama dan bergengsi walaupun harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Sekolah mahal dipakai sebagai alat pengangkat prestise orangtua, sekadar alat untuk menunjukkan bahwa orangtua mampu menyekolahkan anak di sekolah pilihan orang kaya. Bila sudah begini, janganlah terlalu berharap memiliki anak shalih.</p>
<p>Berikut beberapa contoh kesalahan orang tua dalam memberikan pendidikan buat anak-anaknya:<br />
<strong>1. Salah Tujuan</strong><br />
Seringkali orangtua menyekolahkan anak karena malu pada tetangga bila anaknya bodoh atau kalah kecerdasannya, atau khawatir kelak anaknya tidak mendapat pekerjaaan yang layak. Atau, si orangtua hanya ingin agar anaknya nanti menjadi pengawai negeri dan pejabat tinggi yang banyak harta dan hidup mapan. Padahal, orangtua haruslah berangkat dari niat menjalankan<br />
perintah Allah, yaitu memenuhi kewajiban hamba sebagai orangtua yang memang dituntut untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang bertakwa dan shalih, yang menjadi simpanan abadi di akhirat kelak.</p>
<p>Sayangnya, saat ini justru sekolah yang melulu berorientasi pada keberhasilan dunialah yang menjadi prioritas banyak orang awam. Mereka tak memperhatikan apakah terjadi ikhtilat atau tidak. Sehingga kemaksiatan mudah tercipta di sekolah tersebut, karena landasan agama dicampakkan, sementara dunia menjadi tujuan. Lihatlah, di sekolah-sekolah yang ikhtilat,<br />
banyak terjadi kasus zina melalui budaya pacaran, pergaulan bebas, dan asmara buta sehingga kekejian merebak dan perzinahan merajalela.</p>
<p><strong>2. Salah Sekolahan</strong><br />
Bisa jadi orangtua sudah benar dalam niat, tapi karena ilmu agamanya yang minim, ia salah mencarikan lembaga pendidikan bagi anak-anaknya. Misalnya, ia ingin anaknya paham ilmu agama, maka ia main masukkan saja anaknya ke sekolah agama seperti madrasah atau pesantren, tanpa peduli apakah pesantren itu penuh bid’ah atau tidak, dan apakah akidah dan akhlak para santri benar-benar terkontrol.</p>
<p>Harus diakui, saat ini masih ada sekolah Islam yang di situ bercampur-baur antara pelajar laki-laki dengan perempuan, atau kurang memperhatikan sistem pengajarannya, sehingga bercampur antara pelajaran yang syar’i dan bid’ah, bahkan antara ajaran Islam dan ajaran kafir. Alhasil, pemahaman dan efek buruklah yang diterima sang anak. Kelak, ia pun secara sistematis akan tumbuh menjadi generasi dengan pemahaman dan pengamalan Islam yang<br />
menyimpang dari syariat Islam.</p>
<p><strong>3. Salah Teladan</strong><br />
Sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas, keteladan memiliki pengaruh kuat dalam proses pendidikan anak. Perilaku orangtua maupun guru berdampak kuat bagi pembentukan kematangan pribadi sang anak. Teladan yang salah akan membuat anak terdidik di atas kebiasaan buruk dan perilaku negatif. Karena itu, orangtua harus memilih pendidik yang menjunjung tinggi<br />
nilai-nilai akidah dan moral, serta memiliki kelebihan ilmu dan amal dibanding murid-muridnya.</p>
<p><strong>4. Salah Metode Pendidikan</strong><br />
Bisa saja pelajaran yang diberikan kepada sang anak sudah baik, tapi cara penyampaiannya yang tidak tepat, sehingga tujuan dan target pendidikan tidak tercapai, atau anak didik menjadi gagal. Mendisiplinkan anak-anak dengan sanksi kekerasan fisik, misalnya, hanya membentuk anak berwatak keras. Sebaliknya, memberi toleransi yang berlebihan akan membuat anak semakin manja. Anak yang selalu diluluskan permintaan materinya akan tumbuh menjadi anak yang cinta dunia, sementara anak yang biasa diabaikan permintaannya, bisa punya kebiasaan mencuri. Di sekolah, anak hanya dicecar dengan hafalan, tapi kurang diajak memahami suatu permasalahan.</p>
<p>5. Motivasi yang Kurang Tepat<br />
6. Membatasi Kreativitas Anak<br />
7. Membatasi Pergaulan<br />
8. Tidak Disipilin dan Kurang Tertib<br />
9. Hanya Pendidikan Formal<br />
10.Kurang Mengenalkan Tanggung Jawab<br />
11.Khawatir yang Berlebihan<br />
12.Kurang Sabar dalam Menerima Hasil<br />
13.Curiga Berlebihan<br />
14.Menjauhkan Anak dari Orang Shalih</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mamaqfa2.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mamaqfa2.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mamaqfa2.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mamaqfa2.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mamaqfa2.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mamaqfa2.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mamaqfa2.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mamaqfa2.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mamaqfa2.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mamaqfa2.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mamaqfa2.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mamaqfa2.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mamaqfa2.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mamaqfa2.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=35&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/12/22/jangan-salah-mendidik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mamaqfa2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HATI2 DENGAN BUKU DAN PENERBIT SYIAH</title>
		<link>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/12/18/hati2-dengan-buku-dan-penerbit-syiah/</link>
		<comments>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/12/18/hati2-dengan-buku-dan-penerbit-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 04:18:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mamaqfa2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AWAS SYIAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mamaqfa2.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita ke toko buku, terkadang tertarik dengan suatu buku. Namun jangan tergesa-gesa dahulu untuk membelinya. Lihat dulu pengarangnya. Apakah dari Ahlus Sunnah wal jama’ah atau bukan. Kalo perlu, lihat juga penerjemahnya (untuk yang bahasa Indonesia) dan penerbitnya. Jangan sampai kita salah di dalam memilih buku. Pada kesempatan ini kami bawakan daftar buku-buku syiah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=31&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika kita ke toko buku, terkadang tertarik dengan suatu buku. Namun jangan tergesa-gesa dahulu untuk membelinya. Lihat dulu pengarangnya. Apakah dari Ahlus Sunnah wal jama’ah atau bukan. Kalo perlu, lihat juga penerjemahnya (untuk yang bahasa Indonesia) dan penerbitnya. Jangan sampai kita salah di dalam memilih buku.<br />
Pada kesempatan ini kami bawakan daftar buku-buku syiah yang kami dapatkan dari situs salah satu yayasan syiah di Yogyakarta.<br />
Maksud kami ini tidak lain dan tidak bukan agar kita tidak tersesat dalam memilih buku. Kita tahu dan belajar kejelekan bukan untuk kita amalkan tapi untuk kita jauhi.</p>
<p><strong>Penerbit : Lentera </strong></p>
<p>1. Akhlak Keluarga Nabi, Musa Jawad Subhani<br />
2. Ar-Risalah, Syaikh Ja’far Subhani<br />
3. As-Sair Wa As-suluk, Sayid Muhammad Mahdi Thabathaba’i Bahrul Ulum<br />
4. Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, Khalil Al Musawi<br />
5. Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana, Khalil al-Musawi<br />
6. Bagaimana Menyukseskan Pergaulan, Khalil al-Musawi<br />
7. Belajar Mudah Tasawuf, Fadlullah Haeri<br />
8. Belajar Mudah Ushuluddin, Syaikh Nazir Makarim Syirasi<br />
9. Berhubungan dengan Roh, Nasir Makarim Syirazi<br />
10. Ceramah-Ceramah (1), Murtadha Muthahhari<br />
11. Ceramah-Ceramah (2), Murtadha Muthahhari<br />
12. Dunia Wanita Dalam Islam, Syaikh Husain Fadlullah<br />
13. Etika Seksual dalam Islam, Murtadha Muthahhari<br />
14. Fathimah Az-Zahra, Ibrahim Amini<br />
15. Fiqih Imam Ja’far Shadiq [1], Muhammad Jawad Mughniyah<br />
16. Fiqih Imam Ja’far Shadiq Buku [2], Muh Jawad Mughniyah<br />
17. Fiqih Lima Mazhab, Muh Jawad Mughniyah<br />
18. Fitrah, Murthadha Muthahhari<br />
19. Gejolak Kaum Muda, Nasir Makarim Syirazi<br />
20. Hak-hak Wanita dalam Islam, Murtadha Muthahhari<br />
21. Imam Mahdi Figur Keadilan, Jaffar Al-Jufri (editor)<br />
22. Kebangkitan di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi<br />
23. Keutamaan &amp; Amalan Bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan,Sayid Mahdi<br />
al-Handawi<br />
24. Keluarga yang Disucikan Allah, Alwi Husein, Lc<br />
25. Ketika Bumi Diganti Dengan Bumi Yang Lain, Jawadi Amuli<br />
26. Kiat Memilih Jodoh, Ibrahim Amini<br />
27. Manusia Sempurna, Murtadha Muthahhari<br />
28. Mengungkap Rahasia Mimpi, Imam Ja’far Shadiq<br />
29. Mengendalikan Naluri, Husain Mazhahiri<br />
30. Menumpas Penyakit Hati, Mujtaba Musawi Lari<br />
31. Metodologi Dakwah dalam Al-Qur’an, Husain Fadhlullah<br />
32. Monoteisme, Muhammad Taqi Misbah<br />
33. Meruntuhkan Hawa Nafsu Membangun Rohani, Husain Mazhahiri<br />
34. Memahami Esensi AL-Qur’an, S.M.H. Thabatabai<br />
35. Menelusuri Makna Jihad, Husain Mazhahiri<br />
36. Melawan Hegemoni Barat, M. Deden Ridwan (editor)<br />
37. Mengenal Diri, Ali Shomali<br />
38. Mengapa Kita Mesti Mencintai Keluarga Nabi Saw, Muhammad Kadzim<br />
Muhammad Jawad<br />
39. Nahjul Balaghah, Syarif Radhi (penyunting)<br />
40. Penulisan dan Penghimpunan Hadis, Rasul Ja’farian<br />
41. Perkawinan Mut’ah Dalam Perspektif Hadis dan Tinjauan Masa Kini, Ibnu<br />
Mustofa (editor)<br />
42. Perkawinan dan Seks dalam Islam, Sayyid Muhammad Ridhwi<br />
43. Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam Al-Qur’an (1), Murtadha Muthahhari<br />
44. Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam Al-Qur’an (2), Murtadha Muthahhari<br />
45. Pintar Mendidik Anak, Husain Mazhahiri<br />
46. Rahasia Alam Arwah, Sayyid Hasan Abthahiy<br />
47. Suara Keadilan, George Jordac<br />
48. Yang Hangat dan Kontroversial dalam Fiqih, Ja’far Subhani<br />
49. Wanita dan Hijab, Murtadha Muthahhari</p>
<p><strong>Penerbit : Pustaka Hidayah </strong></p>
<p>1. 14 Manusia Suci, WOFIS IRAN<br />
2. 70 Salawat Pilihan, Al-Ustads Mahmud Samiy<br />
3. Agama Versus Agama, Ali Syari’ati<br />
4. Akhirat dan Akal, M Jawad Mughniyah<br />
5. Akibat Dosa, Ar-Rasuli Al-Mahalati<br />
6. Al-Quran dan Rahasia angka-angka, Abu Zahrah Al Najdiy<br />
7. Asuransi dan Riba, Murtadha Muthahhari<br />
8. Awal dan Sejarah Perkembangan Islam Syiah, S Husain M Jafri<br />
9. Belajar Mudah Ushuluddin, Dar al-Haqq<br />
10. Bimbingan Keluarga dan Wanita Islam, Husain Ali Turkamani<br />
11. Catatan dari Alam Ghaib, S Abd Husain Dastaghib<br />
12. Dari Saqifah Sampai Imamah, Sayyid Husain M. Jafri<br />
13. Dinamika Revolusi Islam Iran, M Riza Sihbudi<br />
14. Falsafah Akhlak, Murthadha Muthahhari<br />
15. Falsafah Kenabian, Murthada Muthahhari<br />
16. Gerakan Islam, A. Ezzati<br />
17. Humanisme Antara Islam dan Barat, Ali Syari’ati<br />
18. Imam Ali Bin Abi Thalib &amp; Imam Hasan bin Ali Ali Muhammad Ali<br />
19. Imam Husain bin Ali &amp; Imam Ali Zainal Abidin Ali Muhammad Ali<br />
20. Imam Muhammad Al Baqir &amp; Imam Ja’far Ash-Shadiq Ali Muhammad Ali<br />
21. Imam Musa Al Kadzim &amp; Imam Ali Ar-Ridha Ali Muhammad Ali<br />
22. Inilah Islam, SMH Thabataba’i<br />
23. Islam Agama Keadilan, Murtadha Muthahhari<br />
24. Islam Agama Protes, Ali Syari’ati<br />
25. Islam dan Tantangan Zaman, Murthadha Muthahhari<br />
26. Jejak-jejak Ruhani, Murtadha Muthahhari<br />
27. Kepemilikan dalam Islam, S.M.H. Behesti<br />
28. Keutamaan Fatimah dan Ketegaran Zainab, Sayyid Syarifuddin Al Musawi<br />
29. Keagungan Ayat Kursi, Muhammad Taqi Falsafi<br />
30. Kisah Sejuta Hikmah, Murtadha Muthahhari<br />
31. Kisah Sejuta Hikmah [1], Murthadha Muthahhari<br />
32. Kisah Sejuta Hikmah [2],Murthadha Muthahhari<br />
33. Memilih Takdir Allah, Syaikh Ja’far Subhani<br />
34. Menapak Jalan Spiritual, Muthahhari &amp; Thabathaba’i<br />
35. Menguak Masa Depan Umat Manusia, Murtadha Muthahhari<br />
36. Menolak Isu Perubahan Al-Quran, Rasul Ja’farian<br />
37. Mengurai Tanda Kebesaran Tuhan, Imam Ja’far Shadiq<br />
38. Misteri Hari Pembalasan, Muhsin Qara’ati<br />
39. Muatan Cinta Ilahi, Syekh M Mahdi Al-syifiy<br />
40. Nubuwah Antara Doktrin dan Akal, M Jawad Mughniyah<br />
41. Pancaran Cahaya Shalat, Muhsin Qara’ati<br />
42. Pengantar Ushul Fiqh, Muthahhari &amp; Baqir Shadr<br />
43. Perayaan Maulid, Khaul dan Hari Besar Islam, Sayyid Ja’far Murtadha<br />
al-Amili<br />
44. Perjalanan-Perjalanan Akhirat, Muhammad Jawad Mughniyah<br />
45. Psikologi Islam, Mujtaba Musavi Lari<br />
46. Prinsip-Prinsip Ijtihad Dalam Islam, Murtadha Muthahhari&amp; M. Baqir Shadr<br />
47. Rasulullah SAW dan Fatimah Ali Muhammad Ali<br />
48. Rasulullah: Sejak Hijrah Hingga Wafat, Ali Syari’ati<br />
49. Reformasi Sufistik, Jalaluddin Rakhmat<br />
50. Salman Al Farisi dan tuduhan Terhadapnya, Abdullah Al Sabitiy<br />
51. Sejarah dalam Perspektif Al-Quran, M Baqir As-Shadr<br />
52. Tafsir Surat-surat Pilihan [1], Murthadha Muthahhari<br />
53. Tafsir Surat-surat Pilihan [2], Murthadha Muthahhari<br />
54. Tawasul, Tabaruk, Ziarah Kubur, Karamah Wali, Syaikh Ja’far Subhani<br />
55. Tentang Dibenarkannya Syafa’at dalam Islam, Syaikh Ja’far Subhani<br />
56. Tujuan Hidup, M.T. Ja’fari<br />
57. Ummah dan Imamah, Ali Syari’ati<br />
58. Wanita Islam &amp; Gaya Hidup Modern, Abdul Rasul Abdul Hasan al-Gaffar</p>
<p><strong>Penerbit : MIZAN </strong></p>
<p>1. 40 Hadis [1], Imam Khomeini<br />
2. 40 Hadis [2], Imam Khomeini<br />
3. 40 Hadis [3], Imam Khomeini<br />
4. 40 Hadis [4], Imam Khomeini<br />
5. Akhlak Suci Nabi yang Ummi, Murtadha Muthahhari<br />
6. Allah dalam Kehidupan Manusia, Murtadha Muthahhari<br />
7. Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami-Istri, Ibrahim Amini<br />
8. Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi, O.Hasem<br />
9. Dialog Sunnah Syi’ah, A Syafruddin al-Musawi<br />
10. Eksistensi Palestina di Mata Teheran dan Washington, M Riza Sihbudi<br />
11. Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari<br />
12. Falsafatuna, Muhammad Baqir Ash-Shadr<br />
13. Filsafat Sains Menurut Al-Quran, Mahdi Gulsyani<br />
14. Gerakan Islam, A Ezzati<br />
15. Hijab Gaya Hidup Wanita Muslim, Murtadha Muthahhari<br />
16. Hikmah Islam, Sayyid M.H. Thabathaba’i<br />
17. Ideologi Kaum Intelektual, Ali Syari’ati<br />
18. Ilmu Hudhuri, Mehdi Ha’iri Yazdi<br />
19. Islam Aktual, Jalaluddin Rakhmat<br />
20. Islam Alternatif, Jalaluddin Rakhmat<br />
21. Islam dan Logika Kekuatan, Husain Fadhlullah<br />
22. Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi, Ali Syari’ati<br />
23. Islam Dan Tantangan Zaman, Murtadha Muthahhari<br />
24. Islam, Dunia Arab, Iran, Barat Dan Timur tengah, M Riza Sihbudi<br />
25. Isu-isu Penting Ikhtilaf Sunnah-Syi’ah, A Syafruddin Al Musawi<br />
26. Jilbab Menurut Al Qur’an &amp; As Sunnah, Husain Shahab<br />
27. Kasyful Mahjub, Al-Hujwiri<br />
28. Keadilan Ilahi, Murtadha Muthahhari<br />
29. Kepemimpinan dalam Islam, AA Sachedina<br />
30. Kritik Islam Atas Marxisme dan Sesat Pikir Lainnya, Ali Syari’ati<br />
31. Lentera Ilahi Imam Ja’far Ash Shadiq<br />
32. Manusia dan Agama, Murtadha Muthahhari<br />
33. Masyarakat dan sejarah, Murtadha Muthahhari<br />
34. Mata Air Kecemerlangan, Hamid Algar<br />
35. Membangun Dialog Antar Peradaban, Muhammad Khatami<br />
36. Membangun Masa Depan Ummat, Ali Syari’ati<br />
37. Mengungkap Rahasia Al-Qur’an, SMH Thabathaba’i<br />
38. Menjangkau Masa Depan Islam, Murtadha Muthahhari<br />
39. Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer, Jalaluddin Rakhmat<br />
40. Menyegarkan Islam, Chibli Mallat (*0<br />
41. Menjelajah Dunia Modern, Seyyed Hossein Nasr<br />
42. Misteri Kehidupan Fatimah Az-Zahra, Hasyimi Rafsanjani<br />
43. Muhammad Kekasih Allah, Seyyed Hossein Nasr<br />
44. Muthahhari: Sang Mujahid Sang Mujtahid, Haidar Bagir<br />
45. Mutiara Nahjul Balaghah, Muhammad Al Baqir<br />
46. Pandangan Dunia Tauhid,. Murtadha Muthahhari<br />
47. Para Perintis Zaman Baru Islam,Ali Rahmena<br />
48. Penghimpun Kebahagian, M Mahdi Bin Ad al-Naraqi<br />
49. PersinggahanPara Malaikat, Ahmad Hadi<br />
50. Rahasia Basmalah Hamdalah, Imam Khomeini<br />
51. Renungan-renungan Sufistik, Jalaluddin Rakhmat<br />
52. Rubaiyat Ummar Khayyam, Peter Avery<br />
53. Ruh, Materi dan Kehidupan, Murtadha Muthahhari<br />
54. Spritualitas dan Seni Islam, Seyyed Hossein Nasr<br />
55. Syi’ah dan Politik di Indonesia, A. Rahman Zainuddin (editor)<br />
56. Sirah Muhammad, M. Hashem<br />
57. Tauhid Dan Syirik, Ja’far Subhani<br />
58. Tema-Tema Penting Filsafat, Murtadha Muthahhari<br />
59. Ulama Sufi &amp; Pemimpin Ummat, Muhammad al-Baqir</p>
<p><strong>Penerbit : YAPI JAKARTA </strong></p>
<p>1.Abdullah Bin Saba’ dalam Polemik, Non Mentioned<br />
2.Abdullah Bin Saba’ Benih Fitnah, M Hashem<br />
3.Al Mursil Ar Rasul Ar Risalah, Muhammad Baqir Shadr<br />
4.Cara Memahami Al Qur’an, S.M.H. Bahesti<br />
5.Hukum Perjudian dalam Islam, Sayyid Muhammad Shuhufi<br />
6.Harapan Wanita Masa Kini, Ali Shari’ati<br />
7.Hubungan Sosial Dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi<br />
8.Imam Khomeini dan Jalan Menuju Integrasi dan Solidaritas Islam, Zubaidi<br />
Mastal<br />
9.Islam Dan Mazhab Ekonomi, Muhammad Baqir Shadr<br />
10. Kedudukan Ilmu dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi<br />
11. Keluarga Muslim, Al Balaghah Foundation<br />
12. Kebangkitan Di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi<br />
13. Keadilan Ilahi, Nasir Makarim Syirazi<br />
14. Kenabian, Nasir Makarim Syirazi<br />
15. Kota Berbenteng Tujuh, Fakhruddin Hijazi<br />
16. Makna Ibadah, Muhammad Baqir Shadr<br />
17. Menuju Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi<br />
18. Mi’raj Nabi, Nasir Makarim Syrazi<br />
19. Nasehat-Nasehat Imam Ali, Non Mentioned<br />
20. Prinsip-Prinsip Ajaran Islam, SMH Bahesti<br />
21. Perjuangan Melawan Dusta, Bi’that Foundation<br />
22. Persaudaraan dan Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi<br />
23. Perjanjian Ilahi Dalam Al-Qur’an, Abdul Karim Biazar<br />
24. Rasionalitas Islam, World Shi’a Muslim Org.<br />
25. Syahadah, Ali Shari’ati<br />
26. Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem<br />
27. Sebuah Kajian Tentang Sejarah Hadis, Allamah Murthadha Al Askari<br />
28. Tauhid, Nasir Makarim Syirazi<br />
29. Wasiat Atau Musyawarah, Ali Shari’ati<br />
30. Wajah Muhammad, Ali Shari’ati</p>
<p><strong>Penerbit : YAPI Bangil </strong></p>
<p>1. Akal dalam Al-Kafi, Husein al-Habsyi<br />
2. Ajaran- ajaran Al-Quran, Sayid T Burqi &amp; Bahonar<br />
3. Bimbingan Sikap dan Perilaku Muslim, Al Majlisi Al-Qummi<br />
4. Hawa Nafsu, M Mahdi Al Shifiy<br />
5. Konsep Ulul Amri dalam Mazhab-mazhab Islam, Musthafa Al Yahfufi<br />
6. Kumpulan Khutbah Idul Adha, Husein al-Habsyi<br />
7. Kumpulan Khutbah Idul Fitri, Husein al-Habsyi<br />
8. Metode Alternatif Memahami Al-Quran, Bi Azar Syirazi<br />
9. Manusia Seutuhnya, Murtadha Muthahhari<br />
10. Polemik Sunnah-Syiah Sebuah Rekayasa, Izzudddin Ibrahim<br />
11. Pesan Terakhir Rasul, Non Mentioned<br />
12. Pengantar Menuju Logika, Murtadha Muthahhari<br />
13. Shalat Dalam Madzhab AhlulBait, Hidayatullah Husein Al-Habsyi</p>
<p><strong>Penerbit : Rosdakarya </strong></p>
<p>1. Catatan Kang Jalal, Jalaluddin Rakhmat<br />
2. Derita Putri-Putri Nabi, M. Hasyim Assegaf<br />
3. Fatimah Az Zahra, Jalaluddin Rakhmat<br />
4. Khalifah Ali Bin Abi Thalib, Jalaluddin Rakhmat<br />
5. Meraih Cinta Ilahi, Jalaluddin Rakhmat<br />
6. Rintihan Suci Ahlul Bait Nabi, Jalaluddin Rakhmat<br />
7. Tafsir Al fatihah: Mukaddimah, Jalaluddin Rakhmat<br />
8. Tafsir Bil Ma’tsur, Jalaluddin Rakhmat<br />
9. Zainab Al-Qubra, Jalaluddin Rakhmat</p>
<p><strong>Penerbit : Al-Hadi </strong></p>
<p>1. Al-Milal wan-Nihal, Ja’far Subhani<br />
2. Buku Panduan Menuju Alam Barzakh, Imam Khomeini<br />
3. Fiqh Praktis, Hasan Musawa</p>
<p><strong>Penerbit : CV Firdaus </strong><br />
1. Al-Quran Menjawab Dilema keadilan, Muhsin Qira’ati<br />
2. Imamah Dan Khalifah, Murtadha Muthahhari<br />
3. Keadilan Allah Qadha dan Qadhar, Mujtaba Musawi Lari<br />
4. Kemerdekaan Wanita dalam Keadilan Sosial Islam, Hashemi Rafsanjani<br />
5. Pendidikan Anak: Sejak Dini Hingga Masa Depan, Mahjubah Magazine<br />
6. Tafsir Al Mizan: Ayat-ayat Kepemimpinan, S.M.H. Thabathaba’i<br />
7. Tafsir Al-Mizan: Surat Al-Fatihah, S.M.H. Thabathaba’i<br />
8. Tafsir Al-Mizan: Ruh dan Alam Barzakh, S.M.H. Thabathaba’i<br />
9. Tauhid: Pandangan Dunia Alam Semesta, Muhsin Qara’ati<br />
10. Al-Qur’an Menjawab Dilema Keadilan, Muhsin Qara’ati</p>
<p><strong>Penerbit : Pustaka Firdaus </strong></p>
<p>1. Saat Untuk Bicara, Sa’di Syirazi<br />
2. Tasawuf: Dulu dan Sekarang, Seyyed Hossein Nasr</p>
<p><strong>Penerbit : Risalah Masa </strong></p>
<p>1. Akar Keimanan, Sayyid Ali Khamene’i<br />
2. Dasar-Dasar Filsafat Islam[2], Bahesty &amp; Bahonar<br />
3. Hikmah Sejarah-Wahyu dan Kenabian [3], Bahesty &amp; Bahonar<br />
4. Kebebasan berpikir dan Berpendapat dalam Islam, Murtadha Muthahhari<br />
5. Menghapus Jurang Pemisah Menjawab Buku al Khatib, Al Allamah As Shafi<br />
6. Pedoman Tafsir Modern, Ayatullah Baqir Shadr<br />
7. Kritik Terhadap Materialisme, Murtadha Muthahhari<br />
8. Prinsip-Prinsip Islam [1], Bahesty &amp; Bahonar<br />
9. Syi’ah Asal-Usul dan Prinsip Dasarnya, Sayyid Muh. Kasyful Ghita<br />
10. Tauhid Pembebas Mustadh’afin, Sayyid Ali Khamene’i<br />
11. Tuntunan Puasa, Al-Balagha<br />
12. Wanita di Mata dan Hati Rasulullah, Ali Syari’ati<br />
13. Wali Faqih: Ulama Pewaris Kenabian,</p>
<p><strong>Penerbit : Qonaah</strong><br />
Pendekatan Sunnah Syi’ah, Salim Al-Bahansawiy</p>
<p><strong>Penerbit : Bina Tauhid</strong><br />
Memahami Al Qur’an, Murthadha Muthahhari</p>
<p><strong>Penerbit : Mahdi </strong><br />
Tafsir Al-Mizan: Mut’ah, S.M.H. Thabathabai</p>
<p><strong>Penerbit : Ihsan</strong><br />
Pandangan Islam Tentang Damai-Paksaan, Muhammad Ali Taskhiri</p>
<p><strong>Penerbit : Al-Kautsar</strong><br />
1. Agar Tidak Terjadi Fitnah, Husein Al Habsyi<br />
2. Dasar-Dassar Hukum Islam, Muhsin Labib<br />
3. Nabi Bermuka Manis Tidak Bermuka Masam, Husein Al Habsyi<br />
4. Sunnah Syi’ah Dalam Ukhuwah Islamiyah, Husain Al Habsyi<br />
5. 60 Hadis Keutamaan Ahlul Bait, Jalaluddin Suyuti</p>
<p><strong>Penerbit : Al-Baqir </strong><br />
1. 560 Hadis Dari Manusia Suci, Fathi Guven<br />
2. Asyura Dalam Perspektif Islam, Abdul Wahab Al-Kasyi<br />
3. Al Husein Merajut Shara Karbala, Muhsin Labib<br />
4. Badai Pembalasan, Muhsin Labib<br />
5. Darah Yang Mengalahkan Pedang, Muhsin Labib<br />
6. Dewi-Dewi Sahara, Muhsin Labib<br />
7. Membela Para Nabi, Ja’far Subhani<br />
8. Suksesi, M Baqir Shadr<br />
9. Tafsir Nur Tsaqalain, Ali Umar Al-Habsyi</p>
<p><strong>Penerbit : Al-Bayan</strong><br />
1.Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri, Ibrahim Amini<br />
2.Mengarungi Samudra Kebahagiaan, Said Ahtar Radhawi<br />
3.Teladan Suci Kelurga Nabi, Muhammad Ali Shabban</p>
<p><strong>Penerbit : As-Sajjad </strong><br />
1.Bersama Orang-orang yang Benar, Muh At Tijani<br />
2.Imamah, Ayatullah Nasir Makarim Syirazi<br />
3.Ishmah Keterpeliharaan Nabi Dari Dosa, Syaikh Ja’far Subhani<br />
4.Jihad Akbar, Imam Khomeini<br />
5.Kemelut Kepemimpinan, Ayatullah Muhammad Baqir Shadr<br />
6.Kasyful Asrar Khomeini, Dr. Ibrahim Ad-Dasuki Syata<br />
7.Menjawab Berbagai Tuduhan Terhadap Islam, Husin Alhabsyi<br />
8.Nabi Tersihir, Ali Umar<br />
9.Nikah Mut’ah Ja’far, Murtadha Al Amili<br />
10. Nikah Mut;ah Antara Halal dan Haram, Amir Muhammad Al-Quzwainy<br />
11. Surat-Surat Revolusi, AB Shirazi</p>
<p><strong>Penerbit : Basrie Press </strong><br />
1.Ali Bin Abi Thalib di Hadapan Kawan dan Lawan, Murtadha Muthahhari<br />
2.Manusia Dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari<br />
3.Fiqh Lima Mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah</p>
<p><strong>Penerbit : Pintu Ilmu</strong><br />
Siapa, Mengapa Ahlul Bayt, Jamia’ah Al-Ta’limat Al-Islamiyah Pakistan</p>
<p><strong>Penerbit : Ulsa Press</strong><br />
1. Mengenal Allah, Sayyid MR Musawi Lari<br />
2.Islam Dan Nasionalisme, Muhammad Naqawi<br />
3.Latar Belakang Persatuan Islam, Masih Muhajeri<br />
4.Tragedi Mekkah Dan Masa Depan Al-Haramain, Zafar Bangash<br />
5.Abu Dzar, Ali Syari’ati<br />
6.Aqidah Syi’ah Imamiyah, Syekh Muhammad Ridha Al Muzhaffar<br />
7.Syahadat Bangkit Bersaksi, Ali Syari’ati</p>
<p><strong>Penerbit : Gua Hira</strong><br />
Kepemimpinan Islam, Murtadha Muthahhari</p>
<p><strong>Penerbit : Grafiti</strong><br />
1. Islam Syi’ah: Allamah M.H. Thabathaba’i<br />
2. Pengalaman Terakhir Syah, William Shawcross<br />
3. Tugas Cendikiawan Muslim, Ali Syaria’ti</p>
<p><strong>Penerbit : Effar Offset</strong><br />
Dialog Pembahasan Kembali Antara Sunnah &amp; Syi’ah Sulaim Al-Basyari &amp; Syaraduddien Al ‘Amili</p>
<p><strong>Penerbit : Shalahuddin Press</strong><br />
1. Fatimah Citra Muslimah Sejati, Ali Syari’ati<br />
2. Gerbang Kebangkitan, Kalim Siddiqui<br />
3. Islam Konsep Akhlak Pergerakan, Murtadha Muthahhari<br />
4. Panji Syahadah, Ali Syari’ati.<br />
5. Peranan Cendekiawan Muslim, Ali Syari’ati</p>
<p><strong>Penerbit : Ats-Tsaqalain</strong><br />
Sunnah Syi’ah dalam Dialog, Husein Al Habsyi</p>
<p><strong>Penerbit : Pustaka</strong><br />
Kehidupan Yang Kekal, Morteza Muthahari</p>
<p><strong>Penerbit : Darut Taqrib</strong><br />
Rujuk Sunnah Syi’ah, M Hashem</p>
<p><strong>Penerbit : Al-Muntazhar</strong><br />
1. Fiqh Praktis Syi’ah Imam Khomeini, Araki, Gulfaigani, Khui<br />
2. Ringkasan Logika Muslim, Hasan Abu Ammar<br />
3. Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem<br />
4. Tauhid: Rasionalisme Dan Pemikiran dalam Islam, Hasan Abu Ammar</p>
<p><strong>Penerbit : Gramedia</strong><br />
Biografi Politik Imam Khomeini, Riza Sihbudi</p>
<p><strong>Penerbit : Toha Putra</strong><br />
Keutamaan Keluarga Rasulullah, Abdullah Bin Nuh</p>
<p><strong>Penerbit : Gerbang Ilmu</strong><br />
Tafsir Al-Amtsal (Jilid 1), Nasir Makarim Syirazi</p>
<p><strong>Penerbit : Al-Jawad</strong><br />
1. Amalan Bulan Ramadhan Husein Al-Kaff<br />
2. Mi’raj Ruhani [1], Imam Khomeini<br />
3. Mi’raj Ruhani [2] Imam Khomeni<br />
4. Mereka Bertanya Ali Menjawab, M Ridha Al-Hakimi<br />
5. Pesan Sang Imam, Sandy Allison (penyusun)<br />
6. Puasa dan Zakat Fitrah Imam Khomeini &amp; Imam Ali Khamene’i</p>
<p><strong>Penerbit : Jami’ah al-Ta’limat al-Islamiyah </strong><br />
Tuntutan Hukum Syari’at, Imam Abdul Qasim</p>
<p><strong>Penerbit : Sinar Harapan</strong><br />
1. Iran Pasca Revolusi, Syafiq Basri<br />
2. Perang Iran Perang Irak, Nasir Tamara<br />
3. Revolusi Iran, Nasir Tamara</p>
<p><strong>Penerbit : Mulla Shadra</strong><br />
1. Taman Para Malaikat, Husain Madhahiri<br />
2. Imam Mahdi Menurut Ahlul Sunnah Wal Jama’ah, Hasan Abu Ammar</p>
<p><strong>Penerbit : Duta Ilmu</strong><br />
1. Wasiat Imam Ali, Non Mentioned<br />
2. Menuju Pemerintah Ideal, Non Mentioned</p>
<p><strong>Penerbit : Majlis Ta’lim Amben</strong><br />
114 Hadis Tanaman, Al Syeikh Radhiyuddien</p>
<p><strong>Penerbit : Grafikatama Jaya</strong><br />
Tipologi Ali Syari’ati</p>
<p><strong>Penerbit : Nirmala</strong><br />
Menyingkap Rahasia Haji, Syeikh Jawadi Amuli</p>
<p><strong>Penerbit : Hisab</strong><br />
Abu Thalib dalam Polemik, Abu Bakar Hasan Ahmad</p>
<p><strong>Penerbit : Ananda </strong><br />
Tentang Sosiologi Islam, Ali Syari’ati</p>
<p><strong>Penerbit : Iqra</strong><br />
Islam dalam Perspektif Sosiologi Agama, Ali Shari’ati</p>
<p><strong>Penerbit : Fitrah</strong><br />
Tuhan dalam Pandangan Muslim, S Akhtar Rizvi</p>
<p><strong>Penerbit : Lentera Antarnusa</strong><br />
Sa’di Bustan, Sa’di</p>
<p><strong>Penerbit : Pesona</strong><br />
Membaca Ali Bersama Ali Bin Abi Thalib, Gh R Layeqi</p>
<p><strong>Penerbit : Rajawali Press</strong><br />
Tugas Cendekiawan Muslim, Ali Shari’ati</p>
<p><strong>Penerbit : Bina Ilmu</strong><br />
Demonstran Iran dan Jum’at Berdarah di Makkah, HM Baharun</p>
<p><strong>Penerbit : Pustaka Pelita</strong><br />
1. Akhirnya Kutemukan Kebenaran, Muh Al Tijani Al Samawi<br />
2. Cara Memperoleh Haji Mabrur, Husein Shahab<br />
3. Fathimah Az-Zahra: Ummu Abiha, Taufik Abu ‘Alama<br />
4. Pesan Terakhir Nabi, Non Mentioned</p>
<p><strong>Penerbit : Pustaka</strong><br />
1. Etika Seksual dalam Islam, Morteza Muthahhari<br />
2. Filsafat Shadra, Fazlur Rahman<br />
3. Haji, Ali Syari’ati<br />
4. Islam dan Nestapa Manusia Modern, Seyyed Hosein Nasr<br />
5. Islam Tradisi Seyyed, Hosein Nasr<br />
6. Manusia Masa Kini Dan Problem Sosial, Muhammad Baqir Shadr<br />
7. Reaksi Sunni-Syi’ah, Hamid Enayat<br />
8. Surat-Surat Politik Imam Ali, Syarif Ar Radhi<br />
9. Sains dan Peradaban dalam Islam, Sayyed Hossein Nasr</p>
<p><strong>Penerbit : Pustaka Jaya</strong><br />
Membina Kerukunan Muslimin, Sayyid Murthadha al-Ridlawi</p>
<p><strong>Penerbit : Islamic Center Al-Huda</strong><br />
1. Jurnal Al Huda (1)<br />
2. Jurnal Al Huda (2)<br />
3. Syiah Ditolak, Syiah Dicari, O. Hashem<br />
4. Mutiara Akhlak Nabi, Syaikh Ja’far Hadi</p>
<p><strong>Penerbit : Hudan Press</strong><br />
1. Tafsir Surah Yasin, Husain Mazhahiri<br />
2. Do’a-Do;a Imam Ali Zainal Abidin</p>
<p><strong>Penerbit : Yayasan Safinatun Najah</strong><br />
1. Manakah Jalan Yang Lurus (1), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan<br />
2. Manakah Jalan Yang Lurus (2), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan<br />
3. Manakah Jalan Yang Lurus (3), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan<br />
4. Manakah Shalat Yang Benar (1), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan</p>
<p><strong>Penerbit : Amanah Press</strong><br />
Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari</p>
<p><strong>Penerbit : Yayasan Al-Salafiyyah</strong><br />
Khadijah Al-Kubra Dalam Studi Kritis Komparatif, Drs. Ali S. Karaeng Putra</p>
<p><strong>Penerbit : Kelompok Studi Topika</strong><br />
Hud-Hud Rahmaniyyah, Dimitri Mahayana</p>
<p><strong>Penerbit : Muthahhari Press/Muthahhari Papaerbacks </strong><br />
1. Jurnal Al Hikmah (1)<br />
2. Jurnal Al Hikmah (2)<br />
3. Jurnal Al Hikmah (3)<br />
4. Jurnal Al Hikmah (4)<br />
5. Jurnal Al Hikmah (5)<br />
6. Jurnal Al Hikmah (6)<br />
7. Jurnal Al Hikmah (7)<br />
8. Jurnal Al Hikmah (8)<br />
9. Jurnal Al Hikmah (9)<br />
10. Jurnal Al Hikmah (10)<br />
11. Jurnal Al Hikmah (11)<br />
12. Jurnal Al Hikmah (12)<br />
13. Jurnal Al Hikmah (13)<br />
14. Jurnal Al Hikmah (14)<br />
15. Jurnal Al Hikmah (15)<br />
16. Jurnal Al Hikmah (16)<br />
17. Jurnal Al Hikmah (17)<br />
18. Shahifah Sajjadiyyah, Jalaluddin Rakhmat (penyunting)<br />
19. Manusia dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari<br />
20. Abu Dzar, Ali Syariati<br />
21. Pemimpin Mustadha’afin, Ali Syariati</p>
<p><strong>Penerbit : Serambi</strong><br />
1. Jantung Al-Qur’an, Syeikh Fadlullah Haeri<br />
2. Pelita Al-Qur’an, Syeikh Fadlullah Haeri</p>
<p><strong>Penerbit : Cahaya </strong><br />
Membangun Surga Dalam Rumah Tangga, Huzain Mazhahiri</p>
<p><strong>(Non Mentioned)</strong><em><br />
1. Sekilas Pandang Tentang Pembantain di Masjid Haram, Non Mentioned<br />
2. Jumat Berdarah Pembantaian Kimia Rakyat Halajba 1988, Non Mentioned<br />
3. Al-Quran dalam Islam, MH Thabathabai<br />
4. Ajaran-Ajaran Asas Islam, Behesti<br />
5. Wacana Spiritual, Tabligh Islam Program<br />
6. Keutamaan Membaca Juz Amma, Taufik Yahya<br />
7. Keutamaan Membaca Surah Yasin, Waqiah, Al Mulk, Taufik Yahya<br />
8. Keutamaan Membaca Surah Al-Isra &amp; Al-Kahfi, Taufik Yahya<br />
9. Bunga Rampai Keimanan, Taufik Yahya<br />
10. Bunga Rampai Kehidupan Sosial, Taufik Yahya<br />
11. Bunga Rampai Pendidikan, Husein Al-Habsyi<br />
12. Hikmah-Hikmah Sholawat ,Taufik Yahya<br />
13. Bunga Rampai Pernikahan, Taufik Yahya<br />
14. Hikmah-Hikmah Puasa, Taufik Yahya<br />
15. Hikmah-Hikmah Kematian, Taufik Yahya<br />
16. Wirid Harian, Non Mentioned<br />
17. Do’a Kumay,l Non Mentioned<br />
18. Do’a Harian, Non Mentioned<br />
19. Do’a Shobah, Non Mentioned<br />
20. Do’a Jausyan Kabir, Non Mentioned<br />
21. Keutamaan Shalat Malam Dan Do’anya, Non Mentioned<br />
22. Do’a Nutbah, Non Mentioned<br />
23. Do’a Abu Hamzah Atsimali, Non Mentioned<br />
24. Do’a Hari Arafah (Imam Husain), Non Mentioned<br />
25. Do’a Hari Arafah (Imam Sajjad), Non Mentioned<br />
26. Do’a Tawassul, Non Mentioned<br />
27. Do’a Untuk Ayah dan Ibu, Non Mentioned<br />
28. Do’a Untuk Anak, Non Mentioned<br />
29. Do’a Khatam Qur’an, Non Mentioned<br />
30. Doa Sebelum dan Sesudah Baca Qur’an, Non Mentioned<br />
31. Amalan Bulan Sya’ban dan Munajat Sya’baniyah, Non Mentioned</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mamaqfa2.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mamaqfa2.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mamaqfa2.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mamaqfa2.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mamaqfa2.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mamaqfa2.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mamaqfa2.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mamaqfa2.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mamaqfa2.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mamaqfa2.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mamaqfa2.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mamaqfa2.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mamaqfa2.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mamaqfa2.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=31&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/12/18/hati2-dengan-buku-dan-penerbit-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mamaqfa2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maafkan Aku Suamiku, Aku Tak Bisa Penuhi Hakmu Saat ini</title>
		<link>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/10/31/maafkan-aku-suamiku-aku-tak-bisa-penuhi-hakmu-saat-ini/</link>
		<comments>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/10/31/maafkan-aku-suamiku-aku-tak-bisa-penuhi-hakmu-saat-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 01:28:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mamaqfa2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruangan muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mamaqfa2.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Maafkan Aku Suamiku, Aku Tak Bisa Penuhi Hakmu Saat ini Hak-hak seorang suami tatkala dilaksanakan oleh sang istri dengan penuh keridhaan maka akan berbuah pahala. Namun tentunya hak-hak tersebut tidak melanggar hak-hak Allah. Misalnya salah satu hak suami terhadap istri adalah melayaninya ditempat tidur (jima’). Bahkan jika isteri tidak mematuhinya, malaikat pun akan ikut marah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=27&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Maafkan Aku Suamiku, Aku Tak Bisa Penuhi Hakmu Saat ini</h1>
<p><img src="http://cdn.muslimah.or.id/img/2010/pic_70.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<div id="fb_share_1"><a name="fb_share" href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%253A%252F%252Fmuslimah.or.id%252Ffikih%252Fmaafkan-aku-suamiku-aku-tak-bisa-penuhi-hakmu-saat-ini.html&amp;src=sp"></a></div>
<div></div>
<p>Hak-hak seorang suami tatkala dilaksanakan oleh sang istri dengan penuh keridhaan maka akan berbuah pahala. Namun tentunya hak-hak tersebut tidak melanggar hak-hak Allah. Misalnya salah satu hak suami terhadap istri adalah melayaninya ditempat tidur (jima’). Bahkan jika isteri tidak mematuhinya, malaikat pun akan ikut marah terhadap sang istri yang menolak suaminya tersebut.</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dari Nabi <em>shallallahu’alaihi wasallam</em>, beliau bersabda:</p>
<p>“<em>Jika seseorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur (untuk bersetubuh) lalu istrinya enggan sehingga suami tidur dalam keadaan marah, niscaya para malaikat akan melaknat si istri sampai pagi</em>.” (HR Muslim (2/1060))</p>
<p>Namun disuatu kondisi, sang istri memang tidak boleh melayani suami yaitu saat <strong>haidh</strong>. Butuh pengertian yang didasari ilmu bagi para suami agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan fatal. Mengapa demikian? Karena jima’ dengan wanita haidh hukumnya <strong>haram</strong>. Sebagaimana firman Allah,</p>
<p>وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ</p>
<p>“<em>Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah haidh itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haidh dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu</em>.” (QS Al-Baqarah: 222)</p>
<p>“<em>Hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haidh</em>‘ maksudnya jima’ (di kemaluannya) khususnya karena hal itu haram hukumnya menurut ijma’. Pembatasan dengan kata “menjauh pada tempat haidh’ menunjukkan bahwa bercumbu dengan istri yang haidh, menyentuhnya<strong> tanpa berjima’ </strong>pada kemaluannya adalah <strong>boleh</strong>. (<em>Tafsir As Sa’di</em> jilid 1, hal 358)</p>
<p>Sabda Nabi <em>shallallahu “alaihi wasallam</em>,</p>
<p><em>“Lakukanlah segala sesuatu terhadap isterimu kecuali jima.” </em>(<em>Shahih Ibnu Majah</em> no:527, Muslim I:246 no 302)</p>
<p>Sang istri hendaknya menolak dengan halus jika suami menginginkannya dan menjelaskan bahwa jima’ saat haidh hukumnya haram baik bagi sang suami maupun sang istri. Hal tersebut sesuai dengan perkataan Syaikh Utsaimin <em>rahimahullah</em> bahwa seorang suami haram menggauli istrinya saat haid dan haram pula bagi istrinya melayaninya. (<em>Aktsar Min Alf Jawab Lil Mar’ah</em>)</p>
<p>Namun hal ini tidak menutup kemungkinan bagi suami untuk bercumbu dengan istrinya tanpa jima’. Sebagaimana penjelasan Syaikh As sa’di dalam tafsirnya bahwa bercumbu dengan istri yang haid, menyentuhnya tanpa jima’ boleh.</p>
<p>Dari Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em> berkata “Rasulullah memerintahkan kepadaku agar memakai kain sarung kemudian aku memakainya dan beliau menggauliku.” (Al Mughni (3/84), Al Muhadzab (1/187))</p>
<p>Dari Maimunah, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah menggauli salah satu istrinya sedangkan ia haid, ia (istri) mengenakan kain sarung sampai pertengahan pahanya atau lututnya sehingga beliau menjadikannya sebagai penghalang.” (HR. Bukhari:64)</p>
<p><strong>Batas Waktu Menjauhi Wanita Haidh</strong></p>
<p>فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ</p>
<p>“<em>Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu</em>.” (QS Al Baqarah: 222)</p>
<p>“<em>Sampai mereka suci</em>‘ artinya bahwa darah mereka (wanita haid) telah berhenti, hilanglah penghalang yang berlaku saat darah masih mengalir. (<em>Tafsir As Sa’di</em> jilid 1,hal 358)</p>
<p>Menurut Al-Lajnah ad Daimah, ada 2 syarat kehalalan suami boleh berjima’ dengan istri (yang haid): <strong>terputusnya darah haid</strong> dan <strong>mandi suci</strong>. Dalil yang menguatkan pendapat ini adalah firman Allah, yang artinya: “<em>janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu</em>.” Qs Al Baqarah:222</p>
<p>Dalam <em>Tafsir As Sa’di</em> jilid 1 hal 358, “<em>Janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci</em>” maksudnya harus meninggalkan mencumbu bagian yang dekat kemaluan yaitu bagian diantara pusar dan lutut, sebagaimana Nabi melakukannya, bila beliau mencumbu istrinya pada saat istrinya itu sedang haidh beliau memerintahkan kepadanya untuk memakai kain lalu beliau mencumbunya. Sedangkan “<em>Apabila mereka telah suci </em>” maksudnya sang istri telah mandi.</p>
<p><strong>Bagaimana jika jima’ dengan istri yang haid karena tidak sengaja atau tidak tahu tentang hukumnya?</strong></p>
<p>Imam Nawawi dalam kitab <em>Syarhu Muslim </em>III:204 mengatakan “Andaikata seorang muslim meyakini akan halalnya jima’ dengan wanita yang sedang haid melalui kemaluannya, ia menjadi<strong> kafir, murtad</strong>. Kalau ia melakukannya tanpa berkeyakinan halal, misalnya jika ia melaksanakannya karena lupa atau karena tidak mengetahui keluarnya darah haid atau tidak tahu bahwa hal tersebut haram atau karena dipaksa oleh pihak lain, maka itu tidak berdosa dan tidak pula wajib membayar kafarah. Namun jika ia mencampuri wanita yang sedang haid dengan sengaja dan tahu bahwa dia sedang haid dan tahu bahwa hukumnya haram dengan penuh kesadaran maka berarti dia telah melakukan maksiat besar sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Imam Syafii <em>rahimahullah</em> bahwa perbuatannya adalah dosa besar,dan wajib bertaubat.’</p>
<p>Jika sudah terlanjur mencampuri istrinya dalam keadaan haid, ada dua pendapat :</p>
<ol>
<ol>
<li>Sebagian para ulama berpendapat bahwa ia wajib membayar tebusan (kafarah). Pendapat ini diambil oleh Imam Ahmad dan Imam Nawawi. Syaikh Abdul “Azhim bin Badawi dalam kitabnya <em>Al Wajiiz fi fiqhis Sunnah wal Kitabil “Aziz</em> menyatakan bahwa pendapat yang kuat adalah yang mewajibkan membayar kafarah.</li>
</ol>
</ol>
<p>Berdasarkan hadits Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhu</em>:</p>
<p>Dari Nabi <em>shallallahu’alaihi wasallam</em> tentang seorang suami yang mencampuri isterinya di waktu haid, Rasulullah bersabda, <em>“Hendaklah ia bershadaqah 1 dinar atau separuh dinar.”</em> (<em>Shahih Ibnu Majah </em>no:523, <em>Aunul Ma’bud</em> I:445 no 261, Nasa’i I :153, Ibnu Majah I:210 no:640)</p>
<ol>
<li>Sebagian yang lain menyatakan bahwa tidak mewajibkan membayar tebusan. Sebagimana pendapat yang diambil oleh madzab Hanafiyyah dan yang dikuatkan Syaikh Musthofa al-Adawi bahwa disunnahkan kafarat atas orang yang menggauli istrinya pada saat haid. Perbedaan ini muncul karena perbedaan pendapat mengenai keshahihan dalil-dalilnya.</li>
</ol>
<p><strong>Berapakah besar Kafarrah yang harus Dibayar?</strong></p>
<p>Ada beberapa pendapat para ulama tentang masalah ini:</p>
<ol>
<ol>
<li>Ada perbedaan jumlah kafarrah jika jima’ dilakukan diawal atau akhir waktu haidh</li>
</ol>
</ol>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhu</em> secara mauquf,ia berkata,’Jika ia bercampur dengan isterinya diawal keluarnya darah maka hendaklah bershadaqah 1 dinar dan jika di akhir keluarnya darah maka setengah dinar.’ (Abu Daud no:238 dan “Aunul Ma’bud I:249 no 262)</p>
<p>Pendapat inilah yang diambil oleh madzab Imam Syafii</p>
<ol>
<li>Menurut Imam Ahmad bahwa jika darah haid berwarna merah maka ukurannya adalah 1 dinar dan jika berwarna kuning maka ukurannya setengah dinar.(<em>Ma’alim Sunan</em> karya Al Khithabi (1/181).</li>
<li>Menurut syaikh Albani <em>rahimahullah, </em>kafarah dibayarkan sesuai dengan kemampuan orangnya.</li>
</ol>
<p>Catatan tambahan: 1 dinar = 4,25 gr emas, adapun nilai dinar disesuaikan dengan mata uang setempat.</p>
<p><strong>Apakah Kafarrah juga dibayarkan oleh isteri?</strong></p>
<p>Jika isteri melayaninya dengan sukarela maka ia harus membayar kaffarah, tetapi jika ia melakukan karena paksaan maka ia tidak harus membayar tebusan berdasarkan sabda Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam</em>:</p>
<p><em>“Umatku dimaafkan karena salah,lupa dan apa-apa yang dipaksakan atasnya.”</em></p>
<p>(Lihat <em>Az-zakah wa Tathbiqatihan</em> hal 91)</p>
<p>Semoga dengan pembahasan yang sedikit ini dapat menambah pengetahuan wanita tentang hal yang penting namun terkadang dianggap tabu. Jika memang sang suami belum mempunyai pemahaman mengenai hal tersebut, hendaklah sang istri yang berusaha menjelaskannya dengan semampunya agar tidak terjerumus kedalam kekhilafan. Ingatlah wahai saudariku, tunaikanlah hak Allah terlebih dahulu daripada hak suamimu.</p>
<p><em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p>***<br />
Artikel <a href="http://muslimah.or.id/">muslimah.or.id</a><br />
Penyusun: Ummu Hamzah Galuh Pramita<br />
Murajaah: Ust Ammi Nur Baits</p>
<p><strong>Rujukan:</strong></p>
<ul>
<li><em>Aktsar Min Alf Jawab Lil Mar’ah</em>, Khalid al-Husainan (terj),Darul Haq</li>
<li><em>Al Maushu’ah Al Fiqhiyyah Al Muyassarah Fi Fiqhil Kitaab wa Sunnatil Muthoharah</em>, Syaikh Husein bin “Audah Al “Uwaisah</li>
<li><em>Al Wajiiz fifiqhis Sunnah wal Kitabil “Aziz</em> (terj),Pustaka As Sunnah</li>
<li><em>Isyarat fi Ahkamil Kaffart</em>, Prof Dr Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-thayyar (Terj),Pustaka Al Sofwa</li>
<li><em>Tafsir As Sa’di</em>, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di (terj),Pustaka Sahifa</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mamaqfa2.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mamaqfa2.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mamaqfa2.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mamaqfa2.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mamaqfa2.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mamaqfa2.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mamaqfa2.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mamaqfa2.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mamaqfa2.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mamaqfa2.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mamaqfa2.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mamaqfa2.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mamaqfa2.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mamaqfa2.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=27&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/10/31/maafkan-aku-suamiku-aku-tak-bisa-penuhi-hakmu-saat-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mamaqfa2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cdn.muslimah.or.id/img/2010/pic_70.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Ibu Rumah Tangga Ataukah Wanita karier?</title>
		<link>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/10/31/menjadi-ibu-rumah-tangga-ataukah-wanita-karier/</link>
		<comments>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/10/31/menjadi-ibu-rumah-tangga-ataukah-wanita-karier/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 08:34:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mamaqfa2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mamaqfa2.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; &#160; Aku seorang perempuan yang saat ini bekerja di sebuah instansi pemerintah yang terbilang sangat bergengsi di negara ini. Bergengsi karena kami mendapatkan penghasilan yang paling tinggi diantara PNS yang lainnya. Namun, jangan disangka bahwa penghasilan yang tinggi kehidupan kita akan bahagia. Secara lahiriah, mungkin bisa dikatakan begitu, karena dengan uang semua bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=15&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://mamaqfa2.files.wordpress.com/2011/10/094.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-17" title="anak-anaku, investasi masa depanku" src="http://mamaqfa2.files.wordpress.com/2011/10/094.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Aku seorang perempuan yang saat ini bekerja di sebuah instansi pemerintah yang terbilang sangat bergengsi di negara ini. Bergengsi karena kami mendapatkan penghasilan yang paling tinggi diantara PNS yang lainnya. Namun, jangan disangka bahwa penghasilan yang tinggi kehidupan kita akan bahagia. Secara lahiriah, mungkin bisa dikatakan begitu, karena dengan uang semua bisa didapatkan dengan mudah, status sosial kitapun  ikut meningkat. Namun, tanpa disadari, waktuku terkuras habis untuk di kantor, bayangkan jam kerjaku melebihi jam kerja orang swasta, kami masuk jam 7.30 dan pulang jam 17.00, belum lagi kalau ada rapat mendadak dengan atasan, bisa mulur sampai lebih dari jam 17.00.</p>
<p>Hampir 15 tahun aku kerja, dan alhamdulillah memang prestasi di kantor aku termasuk yang tidak jelek-jelek amat. Tapi belakangan, dalam batinku terjadi kegalauan yang luar biasa, karena menghadapi anak-anak yang beranjak remaja. Tantangan membesarkan anak di zaman globalisasi seperti ini sungguh sangat berat, jika seorang ibu dihadapkan dengan pekerjaan dan jadwal yang padat. Bayangkan aku keluar rumah pada pukul 5.50 karena harus mengejar kereta, kemudian tiba di rumah pada pukul 19.00 kadang kalau jalanan macet bisa sampai pukul 20.00. Coba hitung berapa waktu efektif yang bisa saya gunakan untuk anak2 saya? dalam 5 hari kerja, hanya 2 jam saja, itupun belum kepotong mandi dan lain-lain kepentingan saya pribadi. Kapan waktu optimalku buat mereka? hiks..hiks.</p>
<p>Allah telah menolongku untuk mencapai cita-citaku agar aku dapat membahagiakan kedua orang tuaku dengan berhasilnya aku meraih 2 gelar kesarjanaan, dan duduknya aku di jabatan menengah di kantorku. Semua telah aku persembahkan untuk mereka, dan insya Alloh mereka akan bangga karenanya.</p>
<p>Kini, ketika anakku beranjak remaja, kehadiranku sangat dibutuhkan oleh mereka, untuk menjadi teman curhatnya di kala resah, untuk menjadi pelindung mereka dikala kebingunan, untuk menjadi guru mereka disaat mereka perlu bimbingan, dan itu semua tidak mungkin aku lakukan jika aku masih berada dalam lingkaran ini.</p>
<p>Aku memang masih bercita-cita meraih jabatan yang tinggi, aku memang masih ingin sekali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tapi aku juga tidak ingin keluargaku berantakan hanya karena egoku semata, untuk apa jabatan tinggi, untuk apa pendidikan tinggi kalau ahlak anakku kemudian menjadi tidak terkontrol.</p>
<p>Teringat kata bijak dari Bryan Dyson, mantan eksekuktif Coca Cola bahwa hiudp ini ibarat pemain akrobat dengan lima bola di udara. Anda bisa menamai bola itu dengan sebutan :</p>
<p>1. Pekerjaan</p>
<p>2. Kelauarga</p>
<p>3. Kesehatan</p>
<p>4. Sahabat</p>
<p>5. Semangat</p>
<p>Anda semua harsu menjaga semua bola itu tetap di udara dan jangan sampai ada yang terjatuh. Kalaupun situasi mengharuskan anda melepaskan salah satu di antara lima bola tersebut, lepaskanlah pekerjaan karena pekerjaan adalah bola karet. Pada saat anda menjatuhkannya, suatu saat dia akan melambung kembali, namun 4 bola lain seperti keluarga, kesehatan, sahabat dan semangat adalah bola kaca. Jika anda menjatuhkannya akibatnya sangat fatal, dia akan pecah dan hancur berantakan tanpa bisa kembali utuh seperti semula.</p>
<p>Sungguh kalimat bijak itu menyadarkanku, agar jangan sampai aku salah memililh, hanya karena pekerjaan kita mengorbankan keluarga, sehingga dalam konteks judul ini, aku akan dengan tegar (insyaalloh) memilih anak-anak dan keluargaku daripada pekerjaan, karierku dan pendidikanku sendiri. Semoga pengorbananku tidak sia-sia&#8230;..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mamaqfa2.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mamaqfa2.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mamaqfa2.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mamaqfa2.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mamaqfa2.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mamaqfa2.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mamaqfa2.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mamaqfa2.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mamaqfa2.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mamaqfa2.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mamaqfa2.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mamaqfa2.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mamaqfa2.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mamaqfa2.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=15&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mamaqfa2.wordpress.com/2011/10/31/menjadi-ibu-rumah-tangga-ataukah-wanita-karier/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mamaqfa2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mamaqfa2.files.wordpress.com/2011/10/094.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">anak-anaku, investasi masa depanku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>liburan anak-anak</title>
		<link>http://mamaqfa2.wordpress.com/2008/06/22/liburan-anak-anak/</link>
		<comments>http://mamaqfa2.wordpress.com/2008/06/22/liburan-anak-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 02:04:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mamaqfa2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mamaqfa2.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu tanggal 21 Juni 2008, kedua anak ku Teteh dan Dede nerima raport kenaikan kelas. Tidak terasa ternyata mereka sudah beranjak besar. Si teteh udah kelas 4 dan dede kelas 2. Hari Sabtu dan Minggu kemarin waktuku mutlak milik mereka, ya&#8230; gak apa2 sih&#8230; karena juga sudah menjadi tradisi selama 5 hari, aku dan papanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=9&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu tanggal 21 Juni 2008, kedua anak ku Teteh dan Dede nerima raport kenaikan kelas. Tidak terasa ternyata mereka sudah beranjak besar. Si teteh udah kelas 4 dan dede kelas 2. Hari Sabtu dan Minggu kemarin waktuku mutlak milik mereka, ya&#8230; gak apa2 sih&#8230; karena juga sudah menjadi tradisi selama 5 hari, aku dan papanya sibuk bekerja. Ada kejadian yang menyedihakan di hari Minggu tanggal 22 Juni kemarin, aku nemenin si kecil lucuku Adifa berenang di Atlantis Ancol, sementara itu papa nemenin 2 gadis kecilku di tempat renang yang lain, karena aku kehausan aku meminta si kecil untuk tetap menunggu di kolam renang berbentuk rumah yang dia sebut sebagai &#8220;rumahnya&#8221;. Kesempatan pertama, si kecil dengan disiplin tetap menunggu dalam &#8220;rumahnya&#8221;, eh&#8230; tapi aku teringat kunci mobilku kutaro di tas si Teteh, eku khawatir kunci tsb ilang, kan konyol&#8230;akhirnya aku minta si kecil untuk kembali menunggu dalam rumahnya, sementara aku ngambil barang tsb. Padahal tidak sampai 5 menit aku ke tempt penyimpanan barang, tapi begitu aku kembali ke rumahnya si Difa, Ya Allah&#8230; anaku hilang&#8230;. lemas rasanya seluruh tubuhku&#8230; Ya Allah aku gak ngebayangin kalau anak itu ilang beneran. Iseng aku tanya seorang ibu yang duduk dekat rumahnya Difa, dia menunjuk ke arah selatan, dengan tenag aku menuruti petunjuknya, dan akhirnya alhamdulillah Ya Allah.. aku menangkap sosok mungilku sedang santainya dia bermain sendiri, astaghfirullah Difa&#8230;.. kamu gak tahu betapa mama kaget ketika melihat kamu gak ada di rumahmu nak, mama gak ngebayangin kalau seandainya kamu ilang beneran, pasti mama akan menjadi gila.Mudah-mudahan Allah selalu menjaga kalian bertiga untuk tetap menjadi milik mama sampai mama dipanggil olehNYa, kalian bertiga adalah harta mama yang paling berharga di dunia ini dan tiada tandingannya. Mama sangat sayang kalian, mama cinta kalian bertiga, semoga Allah memberi kesempatan kepada mama dan papa untuk dapat mengasuh kalian bertiga dan calon adik kalian sampai kelak kalian dewasa. semoga anak-anak mama dan papa menjadi anak yang salehah , amien. Adifa&#8230;. jangan bikin mama kaget lagi ya nak&#8230;.I Love you very much kid&#8230;.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mamaqfa2.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mamaqfa2.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mamaqfa2.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mamaqfa2.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mamaqfa2.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mamaqfa2.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mamaqfa2.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mamaqfa2.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mamaqfa2.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mamaqfa2.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mamaqfa2.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mamaqfa2.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mamaqfa2.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mamaqfa2.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mamaqfa2.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mamaqfa2.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=9&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mamaqfa2.wordpress.com/2008/06/22/liburan-anak-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mamaqfa2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Semoga Alloh Menghancurkan Ahmadiyah</title>
		<link>http://mamaqfa2.wordpress.com/2008/06/11/semoga-alloh-menghancurkan-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://mamaqfa2.wordpress.com/2008/06/11/semoga-alloh-menghancurkan-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 03:18:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mamaqfa2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengetahuan Islam berdasarkan manhaj ahlus sunnah wal jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mamaqfa2.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Mencermati perkembangan ahmadiyah beberapa waktu terakhir ini, saya suka merasa geli sendiri, karena terlihat sekali campur tangan orang-orang yahudi dan nasrani, terhadap agama ini. Agama, dicampur adukan dengan Hak Asasi Manusia. Saya mau tanya HAM yang mana ya?? apakah umat Islam juga tidak mempunyai hak untuk menyatakan bahwa ahmadiyah telah menodai agama Islam?? kenapa dunia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=7&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mencermati perkembangan ahmadiyah beberapa waktu terakhir ini, saya suka merasa geli sendiri, karena terlihat sekali campur tangan orang-orang yahudi dan nasrani, terhadap agama ini. Agama, dicampur adukan dengan Hak Asasi Manusia. Saya mau tanya HAM yang mana ya?? apakah umat Islam juga tidak mempunyai hak untuk menyatakan bahwa ahmadiyah telah menodai agama Islam?? kenapa dunia sampai dihebohkan oleh hal sperti ini? sampai-sampai PBB mau turut campur. Yaa&#8230; Alloh, betapa hebatnya kebencian kaum kuffar itu kepada agamamu, sejak dulu hingga kini, betapa kuat konspirasi setan-setan itu untuk menghancurkan dinMu, Ya Alloh. Ya.. Alloh, karena hanya Engkaulah satu-satunya penolong Kami, betapa kebencian kami terhadap kelakuan mereka, namun kami tidak berdaya melihat pembelaan orang-orang sekutu setan itu Yaa&#8230; Alloh. Betapa banyak saudara kami yang telah menjadi korban untuk membela din Mu, namun  kami yakin pengorbanan ini tidak akan sia-sia karena kami berjuang untuk menegakan agamaMu Ya Alloh. Semoga saja ahmadiyah bisa hancur dengan pertolongan dan kehendakMu Ya Alloh&#8230; </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mamaqfa2.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mamaqfa2.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mamaqfa2.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mamaqfa2.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mamaqfa2.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mamaqfa2.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mamaqfa2.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mamaqfa2.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mamaqfa2.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mamaqfa2.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mamaqfa2.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mamaqfa2.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mamaqfa2.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mamaqfa2.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mamaqfa2.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mamaqfa2.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mamaqfa2.wordpress.com&amp;blog=3930724&amp;post=7&amp;subd=mamaqfa2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mamaqfa2.wordpress.com/2008/06/11/semoga-alloh-menghancurkan-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mamaqfa2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
