Belum lama ini kita semua dikejutkan oleh kepergian rekan kerja kita yang sangat mendadak, menurut kabar yang beredar yang bersangkutan meninggal dunia karena kehabisan okisgen setelah kecapaian mengejar absent, kemudian langsung masuk lift dimana oksigen didalamnya juga terbatas. Dari surat keterangan dokter dapat kita ketahui bahwa yang bersangkutan meninggal akibat serangan jantung, padahal menurut rekan kerjanya selama ini beliau sehat-sehat saja, bahkan kegiatan olahraga sering dia ikuti. Kematian mendadak ternyata tidak hanya dialami oleh Pak Toyo saja, sering juga kita dengar bahwa kematian seseorang itu karena diakibatkan oleh masuk angin atau angin duduk, sebegitu hebatnyakah angin itu hingga bisa menyebabkan kematian yang begitu cepat pada manusia ? apakah boleh kita dikerok apabila terdapat gejala masuk angin? Langkah apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi gejala masuk angin dan angin duduk tersebut ? Berikut sedikit ulasan tentang dua istilah tersebut, semoga dapat bermanfaat untuk dapat dijadikan pedoman terutama bagi para pelaksana di Jakarta yang mempunyai rumah dengan jarak yang sangat jauh dari kantor.

Kematian mendadak selama ini sering dikaitkan angin duduk. Dalam istilah kedokteran ternyata angin duduk ini sama dengan Sindrom Jantung Koroner Akut. Penderita yang terkena serangan ini bisa meninggal hanya dalam 15 menit sampai 30 menit sejak serangan pertama, padahal penderita sebelumnya terlihat sehat-sehat saja. Ternyata, penyakit ini tak sekedar masuk angin berat, tetapi identik dengan Sindrom Serangan Jantung Koroner Akut (SSJKA). Jadi jika Anda tiba-tiba merasa nyeri dada, sebaiknya tidak melakukan aktivitas fisik apapun termasuk berhubungan seks. Segeralah pergi ke rumah sakit yang menyediakan fasilitas penanganan Gawat darurat jantung. Ingat! Tidak boleh lebih dari 15 menit setelah serangan nyeri pertama. Gejala yang sering timbul yaitu munculnya keluhan nyeri di dada dan rasa terbakar dengan sesak napas dan keringat dingin. Penyebab angin duduk sebenarnya terletak pada penyempitan pembuluh darah di jantung (vasokonstriksi). Penyempitan itu dapat disebabkan oleh adanya timbunan lemak (aterosklerosis) dalam pembuluh darah akibat konsumsi kolesterol yang tinggi, sumbatan (trombosis) oleh sel beku darah, vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah akibat kejang yang terus menerus, dan adanya infeksi pada pembuluh darah. Penyempitan itu mengakibatkan kurangnya oksigen yang masuk ke dalam jantung. Ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan oksigen di dalam tubuh menyebabkan nyeri di dada, yang dalam istilah medis disebut sebagai angina. Namun, keluhan nyeri pada sindrom serangan jantung koroner akut (SSJKA) dan serangan jantung koroner?(SJK atau infark miokard) adalah berbeda. Pada SJK, angin terjadi akibat sumbatan total pembuluh darah jantung karena aktivitas fisik yang berlebihan. Sedangkan pada SSJKA, angin terjadi akibat sumbatan tidak total yang dirasakan ketika sedang beristirahat dan bersifat mendadak. Biasanya si penderita bisa meninggal paling lama 15 menit setelah keluhan rasa nyeri pertama kali dirasakan. Oleh sebab itu, kita sebaiknya waspada terhadap keluhan angin duduk. Pasalnya kebanyakan penderita sebelum terserang angin duduk akan tampak sehat sehat saja.

Penanganan terhadap serangan tersebut dapat dilakukan dengan melonggarkan sumbatan yang terjadi, yaitu dengan memberikan obat anti platelet (sel pembeku darah) dan anti koagulan atau obat untuk mengantisipasi ketidakseimbangan pasokan oksigen dan kebutuhan oksigen di dalam tubuh. Sindrom serangan jantung koroner akut merupakan penemuan terbaru yang disikapi masyarakat dengan tindakan yang salah. Misalnya, penderita dikerok, dipijat diberi minuman air panas, atau diberi Ramu-ramuan untuk mengeluarkan angin. Yang diperlukan oleh orang yang mengalami kejadian demikian adalah pemberian oksigen dan obat khusus. Jadi, si pasien harus segera dibawa ke rumah sakit, paling baik dalam keadaan berbaring. Kejadian orang yang meninggal ketika dipijat, menunjukkan betapa penanganan yang salah dapat berakibat fatal.
Gejala yang harus diwaspadai adalah
a. Muncul keluhan nyeri ditengah dada, seperti:
– Rasa ditekan
– Rasa diremas-remas, menjalar ke leher,lengan kiri dan kanan, serta ulu hati.
– Rasa terbakar dengan sesak napas Dan keringat dingin.
– Keluhan nyeri ini bisa merambat ke kedua rahang gigi kanan atau kiri, bahu,serta punggung.
b. kembung pada ulu hati seperti masuk angin atau maag dan terasa berisi Gas yang mendesak dinding-dinding perut sehingga membuat anak sesak napas.
c. Sumber masalah sesungguhnya terletak pada penyempitan pembuluh darah jantung (vasokonstriksi).

MASUK ANGIN DAN KEROKAN

Apakah masuk angin itu boleh dikerok ?
Semua orang pasti pernah mendengar istilah masuk angin. Tapi apa sebenarnya yang dimaksud? Sementara tiap orang punya persepsi sendiri, kalangan medis, dokter dan perawat, pun tidak dapat menjelaskannya. Kalangan sekolahan jarang menggunakan istilah masuk angin. Mungkin karena logikanya tidak bisa menerima fenomena angin ”masuk” ke tubuh. Mereka biasanya menggunakan istilah lain, yaitu tidak enak badan. Padahal kalangan bawah menggunakan istilah yang sama untuk menggambarkan berbagai fenomena yang tergolong tidak enak badan, seperti perut kembung, pegal-linu, batuk-pilek, pusing, sakit kepala, demam, meriang, dan lain sebagainya. Akibatnya, segala ketidakjelasan itu menjadi peluang empuk produsen obat atau jamu antimasuk angin. Yang tidak menyukai pahitnya jamu akan memilih kerokan atau pijat. Dengan kedua cara itu banyak orang yang masuk angin merasa lebih baik. Ini wajar saja. Dengan dipijat, otot menjadi lemas dan pembuluh darah halus di dalamnya melebar sehingga lebih banyak oksigen dan nutrisi tersedia untuk jaringan otot. Toksin yang menyebabkan pegal pun dapat segera dibawa aliran darah untuk dibuang atau dinetralkan.
Dengan kerokan, pembuluh halus (kapiler) di permukaan kulit bahkan pecah dan terlihat sebagai jejak merah di tempat yang dikerok. Para pemijat selalu mengatakan bahwa tanda merah itu merupakan bukti bahwa Anda masuk angin. Padahal, orang sehat pun bila dikerok akan meninggalkan jejak merah yang sama. Hanya saja tidak pernah ada orang sehat yang dikerok, bukan? Yang perlu diwaspadai adalah rasa masuk angin yang disertai keringat berbutir-butir besar. Atau, rasa masuk angin yang disertai nyeri, rasa tertekan, atau rasa berat di dada – biasa disebut sebagai angin duduk. Ini mungkin merupakan gejala awal serangan jantung berat. Di kalangan medis, fenomena ini acap disebut flu-like syndrome.
Pada umumnya semua gejala masuk angin merupakan gejala flu (selesma, common cold), yang terjadi karena infeksi berbagai jenis virus. Ada virus menghasilkan toksin (zat racun) yang menyebabkan berbagai gangguan fungsi sistem pencernaan, saluran napas, sistem otot rangka, dan peredaran darah. Ada pula virus, yang kehadirannya membuat tubuh kita memberikan reaksi radang, di antaranya berupa demam dan nyeri, juga warna kemerahan di mukosa yang menggambarkan melebarnya pembuluh kapiler di bawahnya. Di saluran napas, reaksi ini dapat berupa pilek dan hidung tumpat.
Toksin yang dihasilkan virus dapat mengganggu saluran cerna sehingga menimbulkan gejala mulai dari mual, muntah, diare, mulas. Atau, bisa pula mengganggu fungsi usus sehingga pencernaan tidak sempurna dan dihasilkan banyak gas. Gejala demikian belakangan sering disebut sebagai flu perut. Toksin virus lain mungkin menimbulkan nyeri otot dan tulang, maka beredarlah lagi istilah baru, flu tulang. Tidak ada obat yang dapat membunuh virus ini. Antibiotik pun tidak. Untungnya virus tidak pernah bertahan hidup lama, karenanya serangan flu biasanya berakhir setelah 5 – 7 hari. Yang dibutuhkan penderita adalah istirahat dan minum yang cukup serta gizi yang baik untuk menghadapi demam tinggi yang menguras banyak energi dan cairan tubuh.
Gejala masuk angin juga dapat merupakan gejala awal infeksi virus yang lebih serius, seperti virus hepatitis atau virus demam berdarah. Demam berdarah biasanya akut (mendadak) disertai lesu hebat dan gejala lainnya. Sementara, hepatitis mungkin akan hilang sendiri atau berlanjut menjadi lebih nyata bergantung pada daya tahan tubuh seseorang. Untuk kedua penyakit ini kita tentu memerlukan bantuan dokter .