Aku seorang perempuan yang saat ini bekerja di sebuah instansi pemerintah yang terbilang sangat bergengsi di negara ini. Bergengsi karena kami mendapatkan penghasilan yang paling tinggi diantara PNS yang lainnya. Namun, jangan disangka bahwa penghasilan yang tinggi kehidupan kita akan bahagia. Secara lahiriah, mungkin bisa dikatakan begitu, karena dengan uang semua bisa didapatkan dengan mudah, status sosial kitapunĀ  ikut meningkat. Namun, tanpa disadari, waktuku terkuras habis untuk di kantor, bayangkan jam kerjaku melebihi jam kerja orang swasta, kami masuk jam 7.30 dan pulang jam 17.00, belum lagi kalau ada rapat mendadak dengan atasan, bisa mulur sampai lebih dari jam 17.00.

Hampir 15 tahun aku kerja, dan alhamdulillah memang prestasi di kantor aku termasuk yang tidak jelek-jelek amat. Tapi belakangan, dalam batinku terjadi kegalauan yang luar biasa, karena menghadapi anak-anak yang beranjak remaja. Tantangan membesarkan anak di zaman globalisasi seperti ini sungguh sangat berat, jika seorang ibu dihadapkan dengan pekerjaan dan jadwal yang padat. Bayangkan aku keluar rumah pada pukul 5.50 karena harus mengejar kereta, kemudian tiba di rumah pada pukul 19.00 kadang kalau jalanan macet bisa sampai pukul 20.00. Coba hitung berapa waktu efektif yang bisa saya gunakan untuk anak2 saya? dalam 5 hari kerja, hanya 2 jam saja, itupun belum kepotong mandi dan lain-lain kepentingan saya pribadi. Kapan waktu optimalku buat mereka? hiks..hiks.

Allah telah menolongku untuk mencapai cita-citaku agar aku dapat membahagiakan kedua orang tuaku dengan berhasilnya aku meraih 2 gelar kesarjanaan, dan duduknya aku di jabatan menengah di kantorku. Semua telah aku persembahkan untuk mereka, dan insya Alloh mereka akan bangga karenanya.

Kini, ketika anakku beranjak remaja, kehadiranku sangat dibutuhkan oleh mereka, untuk menjadi teman curhatnya di kala resah, untuk menjadi pelindung mereka dikala kebingunan, untuk menjadi guru mereka disaat mereka perlu bimbingan, dan itu semua tidak mungkin aku lakukan jika aku masih berada dalam lingkaran ini.

Aku memang masih bercita-cita meraih jabatan yang tinggi, aku memang masih ingin sekali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tapi aku juga tidak ingin keluargaku berantakan hanya karena egoku semata, untuk apa jabatan tinggi, untuk apa pendidikan tinggi kalau ahlak anakku kemudian menjadi tidak terkontrol.

Teringat kata bijak dari Bryan Dyson, mantan eksekuktif Coca Cola bahwa hiudp ini ibarat pemain akrobat dengan lima bola di udara. Anda bisa menamai bola itu dengan sebutan :

1. Pekerjaan

2. Kelauarga

3. Kesehatan

4. Sahabat

5. Semangat

Anda semua harsu menjaga semua bola itu tetap di udara dan jangan sampai ada yang terjatuh. Kalaupun situasi mengharuskan anda melepaskan salah satu di antara lima bola tersebut, lepaskanlah pekerjaan karena pekerjaan adalah bola karet. Pada saat anda menjatuhkannya, suatu saat dia akan melambung kembali, namun 4 bola lain seperti keluarga, kesehatan, sahabat dan semangat adalah bola kaca. Jika anda menjatuhkannya akibatnya sangat fatal, dia akan pecah dan hancur berantakan tanpa bisa kembali utuh seperti semula.

Sungguh kalimat bijak itu menyadarkanku, agar jangan sampai aku salah memililh, hanya karena pekerjaan kita mengorbankan keluarga, sehingga dalam konteks judul ini, aku akan dengan tegar (insyaalloh) memilih anak-anak dan keluargaku daripada pekerjaan, karierku dan pendidikanku sendiri. Semoga pengorbananku tidak sia-sia…..