by Nenden Maya *Ummu Faid*

 

Surga…begitu mahal harganya ternyata. Betapa aku sangat merindukan untuk memasukinya, tapi..apakah aku sudah melakukan segala amalan yang diperintahkan Allah? sudahkah ibadahku bernilai di mata Allah? ataukah hanya bernilai dari kuantitas semata tanpa nilai sama sekali?

Auratku…apakah aku sudah menutupnya dengan sempurna? sesuai dengan kaidah yang disyariatkan yaitu : tidak ketat, tidak transparan, tidak menyerupai laki-laki, tidak menyerupai pakaian wanita kafir, dan berpakaian tidak berfungsi sebagai hiasan untuk aku banggakan pada sesama manusia?

 

Mulutku, apakah sudah kujaga untuk tidak berghibah atau namimah atau memfitnah? karena mulutku bisa berbahaya jika tak kujaga, darinya aku bisa bangkrut, karena akibat perbuatanku, semua pahalaku bisa terhapus dan diberikan pada orang-orang yang kudzholimi dan beban dosa orang yang aku dzholimi akan dilimpahkan padaku.

 

Mataku, apakah aku bisa menjaga untuk menundukan pandanganku dan hanya kupakai untuk merenungi ayat-ayat suci dan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.

 

Telingaku, apakah bisa kujaga untuk hanya mendengar hal-hal yang bermanfaat yang bisa menghantarku pada keimanan yang sempurna.

 

Kakiku, apakah sudah aku langkahkan untuk menuntut ilmu syar’i dan kewajiban lain yang disyariatkan Allah, dan tidak aku gunakan untuk melangkah di tempat-tempat yang tidak diridhoi olehNYa.

 

Tanganku, apakah sudah aku gunakan untuk membelai anak-anak dan suamiku, menyiapkan segala keperluan mereka, menyalurkan tenaga, harta di jalan Allah?

 

Aah mungkin semua masih jauh dari anganku, karena aku masih suka hura-hura, masih suka mementingkan diri sendiri dengan meninggalkan anak-anak demi sebuah reuni yang pada akhirnya menimbulkan benih-benih perselingkuhan, masih suka nebeng sana sini pada yang bukan mahrom demi kenyamanan diri sendiri, masih suka narsis dengan memajang foto di forum sosialita demi sebuah pujian dari rekan wanita ataupun dari suami orang lain, masih suka melawan pada perintah suamiku sendiri, masih suka chatting dengan suami orang lain dengan dalih itu adalah teman sekantor, teman lama atau sahabat lama.

 

Ya Allah, ternyata perjalanan menuju surgaMu masih sangatlah jauuuh, sementara kesempatan umur yang Kau berikan, akupun tidak tahu. Sering Hamba berhura-hura atas bertambahnya umur dengan dalih bersyukur, padahal Hamba tahu itu tidak sepantasnya Hamba lakukan, karena dengan bertambah umur, sebetulnya jatah hidup Hamba semakin mendekat pada kematian, sang pemutus kenikmatan. Patutkah Hamba tersenyum dan gembira dengan berkurangnya umur Hamba, sementara amalan baik Hamba hanya secuil…, itupun Hamba tidak tahu apakah akan utuh atau harus dikurangi oleh orang-orang yang mungkin saja sudah terdzholimi oleh Hamba ya Allah.

 

Ampuni segala kebodohanku, segala kesengajaanku dan sifat berlebihanku dalam urusanku ya Allah, karena Engkau sebaik-sebaik tempat meminta, bimbing aku selalu dalam jalanMU, jalan yang Engka ridhoi, duhai yang Maha membolak-balikan hati.

 

Yaa Muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘alaa diinik, amiin